Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Tuesday, September 25, 2018

Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat Barat ( Yunani ) ( Makalah)

A.       Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat Di Dunia Barat (Yunani)

 Filsafat barat dapat dibagi menjadi 4 periodisasi yaitu[1] : yang pertama  zaman yunani kuno yang bercirikan pemikiran kosmosentris ( para filosof mempertanyakan kejadian semesta alam ). Kedua yaitu zaman abad pertengahan dimana pemikiran para filosof masih banyak dipengaruhi oleh dogma – dogma agama kristiani. Ketiga yaitu zaman modern dimana filosof menjadikan manusia sebagai obyek analisi filsafat sehingga bisa disebut sebagai zaman antroposentrisme. Keempat adalah abad kontemporer yang logosentris menjadi pemikiran zaman ini, teks menjadi sebuah tema sentral diskursus para filosof.
a.         Zaman Yunani Kuno (600 M - 400 M)
Periode Yunani Kuno ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam seperti Thales menyimpulkan air sebagai Arche, Anaximander menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak terbatas ( apeiron ) sebagai asas mula kemudian Anaximenes bahwa udara adalah asas mula, dan Phytagoras menyatakan bahwa asas mula tersebut dapat diterangkan dengan menggunakan angka – angka, yang kemudian terkenal denga dalilnya tentang segitiga siku – siku. Puncak zaman Yunani  dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates, Plato dan Aristoteles. di mana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati di sekitarnya. Mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta (arche) yang sifatnya mutlak, yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah.
Orang-orang yunani memiliki sistem kepercayaan, bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya, suatu kebenaran lewat akal pikir (logos) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber pada mitos (dongeng-dongeng).



Pengertian filsafat pada saat itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang sifatnya masih sempit. Dari hal ini kemudian munculah beberapa ahli pikir yang menentang adanya mitos, antara lain :
NO
NAMA FILOSOF
NO
NAMA FILOSOF
1
2
3
4
5
6
7
Thales (625-545 SM)
Anaximandros (640 -546 SM)
Pythagoras (± 572 - 497 SM)
Xenophanes (570 - ? SM)
Heracitos (535 - 475 SM)
Parmenides (540 - 475 SM)
Zeno (±490 - 430SM)
8
9
10
11
12
13
Empedocles (490 - 435 SM)
Anaxagoras (± 499 - 420 SM)
Democritos (460 - 370 SM)
Socrates (469 - 399)
Plato (427 – 347 SM)
Aristoteles (384 - 322 SM)

b.        Abad Pertengahan (300 M - 1500 M)
Filsafat Barat, Pada Abad Pertengahan juga dapat dikataka sebagai “The Dark Age (Abad yang Gelap)”. Karena pada saat itu manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensi yang yang terdapat dalam dirinya, karena pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia. Para ahli pikir saat itu juga tidak memiliki kebebasan berpikir. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, orang yang mengemukakannya akan dihukum berat.
Pada abad pertengahan ini dibagi menjadi tiga masa, yaitu masa Patristik, Skolastik dan Peralihan.[2]

1.         Masa Patristik
Patristik yang artinya para pemimpin gereja. Pada masa ini terdapat dua golongan dari para ahli pikir, yaitu ahli pikir yang menolak dan ahli pikir yang menerima filsafat yunani. Bagi mereka yang menolak beralasan karena telah memiliki sumber kebenaran dari firman Tuhan, sedangkan dari mereka yang menerima beralasan karena tidak ada salahnya mengambil keduannya asal tidak bertentangan dengan agama.

2.         Masa Skolastik
Skolastik berasal dari kata sifat yang artinya “school” atau sekolah. Jadi, skolastik berarti aliran yang berkaitan dengan sekolah.
Filsafat skolastik merupakan suatu sistem yang termasuk jajaran pengatahuan alam kodrat, yang akan dimasukkan kedalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.

3.         Masa Peralihan
Masa yang berada dipenghujung abad pertengahan, yang mana pada masa ini terjadi peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat pembaharuan. Pada masa ini ditandai dengan munculnya Renaissance, Humanisme dan reformasi.

c.         Abad Modern (1500 M - 1800 M) 
Abad ini dimulai sejak adanya krisis pada abad pertengahan selama dua abad yang ditandai dengan munculnya gerakan renaissance (kelahiran kembali) yang tujuannya ditekankan pada bidang keagamaan, yakni merelisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengkaitkan filsafat yunani dengan ajran agama Kristen.
Dalam era filsafat modern ini kemudian diteruskan dengan era filsafat abad ke-20 ditandai dengan munculnya berbagai aliran pemikiran seperti Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionisme, Materialisme, dan lain sebagainya.

d.        Abad Kotemporer (setelah 1800 M)
Pada abad ini terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang dapat dikatakan masih baru, walaupun tergolong baru aliran pemikiran filsafat ini memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat pada abadnya. Filsafat kontemporer ini disebut juga sebagai filsafat abad ke-20. ciri-ciri filsafat pada abad ini yaitu desentralisasi manusia. Desentralisasi adalah perhatian khusus terhadap bahasa sebagai subjek kenyataan kita sehingga pemikiran filsafat sekarang ini disebut logosentris. Kedua aliran yang dimaksud adalah aliran Filsafat Analitis dan aliran Filsafat Strukturalis.[3]

1.         Filsafat Analitis
Filsafat ini dipelopori oleh Ludwig Josef  Johan Wittgenstein (1989 – 1951). Sumbangannya yang terbesar dalam filsafat adalah pemikiran tentang pentingnya bahasa. Ia mencita-citakan suatu bahasa yang ideal, yang lengkap dan dapat memberikan kemungkinan bagi penyelesaian masalah-masalah kefilsafatan.

2.         Filsafat Strukturalisme
J. Lacan merupakan pelopor dari filsafat ini. Menurut pemikirannya bahasa terdiri dari sebuah cermin yang ditentukan oleh posisi-posisinya satu terhadap yang lain.

B.            


[1] Russel, Bertrand. 2002. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka pelajar.hal.16-25.
[2] Ahmadi, Asmoro. 2007Pengantar Ilmu dan  Sejarah Filsafat. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Hal.63.
[3] Sonny Keraf, A. dan M ikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.hal.43.



Pages