Knowledge Is Free

Hot

Sponsor

Minggu, 20 Maret 2016

Makalah Kemampuan Kinestetik Pada anak

Maret 20, 2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita temui ada beberapa orang yang kurang beruntung dengan kondisi fisik mereka, seperti anak  yang mengalami cerebral palsy atau tunanetra. Namun, dengan segala keterbasan yang ada kita masih dapat memaksimalkan kemampuan mereka, apalagi bagi anak-anak yang tidak mengalami hambatan fisik. Beberapa contoh kegiatan berikut dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan kinestetik tubuh, antara lain:
Menari, menari disini tidak hanya melakukan gerakan tari baku, seperti tari lilin, paying. Namun, melakukan gerakan-gerakan dengan irama tertentu yang diiringi dengan musik. Saat menari di tuntut pula kemampuan lain, seperti memperhatikan, meniru gerakan, dan mamadankan gerakan dengan musik.
Bermain peran, melalui kegiatan bermain peran anak akan menggerakkan tubuh sesuai dengan peran yang dimainkan, misalnya saat bermain peran sebagai guru maka anak akan memperlihatkan gaya tubuh, mimik wajah, dan suara, seperti guru.
Drama, buatlah sebuah drama prndek yang di dalamnya tercakup berbagai faktor yang saling terkait, misalnya ada gerak tubuh, ekspresi wajah, kominikasi antar pemegang peran, dan kemungkinan musik pengiring.
Olahraga, kegiatan olahraga, apakah itu dilakukan melalui klub olahraga ataupun kegiatan bersama yang dilakukan dengan guru dan orang tua, dapat melatih dan meningkatkan kemampuan gerak tubuh anak.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kecerdasan Bodily kinesthetic
Kecerdasan kinestetik adalah kecerdasan yang menekankan kemampuan gerak, serta sangat senang dengan dunia olahaga, performance, dan menari. Kecerdasaan ini menekankan pada kemampun seseorang dalam menangkap infomasi dan mengelolanya sedemikian cepat, lalu dikonkritkan dalam wujud gerak, yakni dengan menggunakan badan, kaki dan tangan. Pada anak usia prasekolah merupakan masa – masa dimana mereka aktif bergerak meniru sesuatu yang mereka lihat.
2.2

Kemampuan Kinestetik Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak
Disini saya akan membahas tentang kemampuan kinestetik pada anak sesuai indikator yang dapat dicapai anak pada usia 5-6 tahun khususnya kinestetik dalam bidang olahraga. Dimana gerakan-gerakan tersebut dapat dilakukan melalui permainan, misalnya :
a)   Berjalan dengan Menaikkan dan Menurunkan Badan
Anak berjalan dengan aktivitas-aktivitas normal dan arahnya lurus. Anak kemudian berjalan berlahan-lahan sambil menurunkan badanya sampai menurut mereka cukup rendah, lalu ketika sudah sampai pada jarak yang ditentukan, anak berjalan seperti biasa kembali. Setelah itu anak berjalan berlahan-lahan sambil meninggikan badannya setinggi-tingginya seperti anak meraih i sesuatu, lalu setelah sampai pada jarak yang sudah ditentukan, anak berjalan seperti biasa kembali. Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)   Pada saat menurunkan dan menaikkan badan, pastikan tubuh memiliki keseimbangan yang baik.
2)   Ketika badan sudah turun di bawah, posisi kaki tetap memungkinkan anak untuk bisa melangkah.
3)    Jika anak merasa akan jatuh, gunakan ke dua tangan sebagai penompang badan.
4)    Pastikan tempat yang digunakan aman untuk anak.
b)     Berjalan Mengikuti Pola Suatu Garis
Aktivitas berjalan untuk mengikuti pola suatu garis. Anak–anak dapat mencobanya terlebih dahulu pada suatu garis yang sudah disiapkan sebelumnya, kemudian anak bias melakukannya sendiri. Jika sudah melewati garis dengan baik, seorang anak atau suatu kelompok bisa mendisain pola suatu garis sebisa mereka, yang kemudian dicobanya sendiri dan menjelaskan apa maksud dari garis tersebut.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)   Anak – anak harus berjalan hati – hati ketika melewati belokan–belokan atau tikungan – tikungan di garis pola.
2)   Berjalanlah mengikuti garis dengan memperhatikan keseimbangan tubuh.
3)    Sediakan kertas lebar dan kapur tulis sebagai media untuk menulis garis yang akan dilewatinya.
c)      Memantulkan Bola ke Tembok
Anak melempar bola dengan cara dipantulkan ke tembok kemudian menangkapnya dengan memindahkan anggota badan ke arah bola. Aktivitas ini dapat dilakukan dengan cara berpasangan yaitu dengan cara memantulkan bola ke tembok kemudian pantulan bola tersebul diambil oleh pasangan anak. Aktivitas akan lebih menantang jika anak saling melempar bola dengan ketinggian tertentu.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)        Lemparan bola tidak terlalu keras sehingga pantulan bola tidak terlalu jauh untuk dijangkau anak.
2)        Tekanan udara bola harus cukup. Jangan terlalu kasar sehingga pantulan bola tidak terkontrol, dan jangan terlalu lembek sehingga bola tidak bisa memantul.
3)         Jarak antar pelempar jangan terlalu jauh karena kemampuan melempar anak terbatas, dan jangan terlalu dekat karena tidak ada ruang untuk memantul.
d)     Melompat dengan Awalan
Caranya hampir sama dengan lompat jauh, tapi aktivitas ini dapat dilakukan dalam ruangan dengan menyediakan matras yang diatur agar betul– betul aman untuk pendaratan anak. Anak secara satu persatu bergantian melompat dengan awalan yang secara teknis dikuasainya, kemudian harus mendarat di atas mtras. Awalan berlari harus diperharikan karena berkatan dengan lebar dan panjang matras yang dipakai.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)        Ambilah jarak awalan yang cukup aman.
2)        Melompatlah pada patokan garis yang sudah ditentukan.
3)         Mendaratlah dengan kedua kaki secara baik.
4)        Gunakan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh.
e)      Melompat Melewati Penanda
Anak –anak melewati penanda dengan ketinggian yang sudah ditentukan yang disesuaikan dengan kemampun umum mereka. Diawli dengan melompat tanpa penanda, kemudian anak diberikan penanda untuk melompat dengan tingkat ketinggian yang terus ditingkatkan. Pendaratan tetap harus menggunakan matras. Keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama agar tidak terjadi cedera.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)        Awalan diambil dengan jarak yang cukup memadai.
2)        Aturan kecepatan berlari pada saat mengambil awalan sebelum berlari dengan sebaik – baiknya.
3)        Menumpulah sebaik – baiknya di penanda tumpuan.
4)         Angkatlah kedua kaki dengan keseimbangan yang baik ketika melewati penanda. Mendaratlah dengan kedua kaki sebaik – baiknya.
f)       Meloncat Melewati Penanda
Anak – anak berdiri tegak di samping penanda. Mereka mulai dengan mengangkat dengan salah satu kaki lalu meloncat melewati penand secara bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri. Jika anak dapat mekakukannya, semakin lama penanda akan semakin ditinggikan.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)        Meloncat dengan menggunakan kaki terkuat untuk menumpu badan.
2)         Perhatikan ketingian penanda mudah, terjangkau, atau sulit dilewati anak.
3)        Perhatian anak harus berfokus pada pergantian kaki karena harus menumpu dengan satu kaki secara bergantian.
g)      Meloncat Melewati Tali
Sebuah tali direntangkan dengan ketinggian tertentu yang dapat diloncati anak. Anak mencoba meloncati tali tersebut dan mendarat dengan kedua kakinya secara aman. Setelah berhasil meloncatinya, anak mengulangi kembali loncatan dari arah yang berlawanan atau dari arah tempat anak mendarat. Gunakan kaki terkuat sebagai tolakan. Ketinggian tali bisa dinaikkan sesuai kebutuhan.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)      Perhatikan ketinggian tali, apakah mampu dilewati anak atau tidak.  Jangan sekali– kali memaksa anak jika anak tidak mampu melewatinya.
2)       Gunakan kaki terkuat untuk menumpu dan mendaratlah dengan kedua kaki dengan aman dan baik.
3)      Gunakan ayunan kedua lengan untuk menaikkan dan mendaratkan badan dengan keseimbangan yang baik.
4)      Intruksi semua intruksi guru agar tidak terjadi benturan antara anak yang sudah selesi melompat dengan yang masih akan melompat.
h)     Meloncat ke Dalam kotak dan Lingkaran
Buatlah beberapa garis yang berbentuk kotak dan lingkaran yang sesuai dengan bentuk zig–zag. Setiap anak mencoba meloncat kedalam garis tersebut dengan bertumpu pada kedua kaki dan mendarat pada kaki kiri, kemudian melakukan loncatan ke kotak berikutnya dengan kaki kanan, sampai seluruh kotak tersebut selesai dimasuki. Akan lebih baik menggunakan garis saja, bukan alas dari bahan tertentu yang akan menyebabkan kaki anak terpeleset karena mungkin saja ada yang pendaratannya tidak masuk ke dalam kotak.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)        Media lingkaran yang dipakai harus aman untuk anak.
2)        Anak melakukan pendaratan terakhir dengan menggunakan kedua kaki dengan aman.
3)         Gunakan kaki terkuat untuk menjadi tumpuan.
4)        Lebar lingkaran aman dan cukup untuk kaki anak.
i)        Meluncur dari Atas ke Bawah dengan Papan Luncur
Hampir semua anak tahu tempat luncuran di area bermain dan disana ada papan yang didesain khusus untuk meluncurkan badan dari atas ke bawah ( papan luncur/prosotan). Anak naik ke atas papan luncur, lalu berdiri di ujung papan luncur dan mengambil posisi duduk. Doronglah badan dengan kedua tangan sehingga badan akan meluncur secara perlahan kemudian semakin cepat dan sampai di tempat pendaratan dengan baik dan selamat. Gunakan kedua kaki untuk bantuan pendaratan yang baik sehingga bisa mengurangi resiko sehingga badan kurang terkontrol. Pada waktu yang sama, berhati–hatilah setelah meluncur dari papan luncur an sampai di bawah, anak hrus segera ke pinggir, jika tidak ia akan tertabrak temannya yang sedang meluncur. Hindari bermain di ujung luncuran bagian atas karena dapat terjadi aksi dorong – dorongan yang akan menyebabkan anak jatuh dari ketinggian yang membahayakan.
Adapun standar Kemampuan dan Keselamatan. Yaitu:
1)   Anak meluncur harus dengan urutan peraturan yang sudah ditetapkan.
2)   Anak meluncurkan badan dengan meletakan badan dengan meletakkan kaki kemudian membungkukkan badandengan posisi duduk.
3)   Mendaratlah dengan kedua kaki dengan baik.



2.3  Cara Mengasah Seni Tari Dalam Kecerdasan Bodily Kinesthetic
            John Martin dalam The Modern Dance, menyatakan bahwa gerak betul-betul merupakan substansi baku dari tari. Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia. Gerak bukan hanya terdapat pada denyutan-denyutan diseluruh tubuh manusia untuk tetap menghayati kehidupan manusia, tetapi gerak juga terdapat pada ekspresi dari segala pengalaman emosional manusia. Badan adalah cermin dari jiwa manusia. Pada dasarnya substansi pokok dari tari adalah gerak. Gerak merupakan gejala yang paling primer dari manusia, dan gerak merupakan alat yang paling tua bagi manusia, untuk menyatakan keinginan-keinginan atau merupakan bentuk refleksi spontan dari gerakan-gerakan yang terdapat di dalam jiwa manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu bergerak. Gerak dapat dilakukan dengan berpindah tempat. Sebaliknya, gerakan di tempat disebut gerak di tempat (John Martin dalam Soedarsono 1972: 3).
Tari adalah gerakan badan (tangan dsb) yang berirama dan biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan, dsb) Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 414). Pembelajaran tari yang dimaksud disini yaitu pembelajaran tari yang sederhana tidak dengan patokan-patokan. Bisa juga dengan membuat gerakan-gerakan berirama, dan gerakan ini tidak harus berbentuk tarian (Astini 2008: 55). Karena gerakan-gerakan yang dipakai dan digunakan adalah gerak-gerak bebas sebagai hasil kreatifitas anak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan juga menumbuhkan ide-ide kreatif siswa yang bertujuan untuk mengolah kecerdasan body kinestetik yang dimiliki siswa. Pembelajaran tari pada anak dapat membantu perkembangan otak, karena melalui kegiatan tari, anak diberi kesempatan untuk bereksplorasi dalam mengembangkan kemampuan mengekspresikan gerak sesuai daya imajinasi anak. pendapat Suharni Nany (2004: 1) menyatakan bahwa tarian dan gerakan yang menyenangkan dengan iringan musik harus menjadi kegiatan harian anak. Salah satu media pembelajaran yang sangat menarik dan menyenangkan adalah seni tari dalam upaya pengembangan aktifitas motorik secara terus menerus. Melalui seni tari serta pengalaman eksplorasi, anak akan menemukan sesuatu yang menarik yakni cara mengembangkan kemampuan mengekspresikan gerak secara ritmik.



















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Kecerdasan tubuh adalah kemampuan memahami, mencintai dan memelihara tubuh anda, dan membuatnya berfungsi seefisien mungkin untuk anda. Dengan kata lain, kecerdasan tubuh adalah kecerdasan atletik dalam mengontrol tubuh seseorang dengan sangat cermat (2005: 153). Sedangkan menurut James (2005: 153) kecerdasan tubuh itu dapat memungkinkan terjadinya hubungan antara pikiran dan tubuh yang diperlukan agar berhasil dalam berbagai aktifitas seperti menari, melakukan pantomim, berolah raga, menguasai seni bela diri dan memainkan drama.














Daftar Pustaka
Y kwartolo.2012.Jurnal kecerdasan bodily kinesthetic. Jakarta: Bpk Penabur

           
           



            
Read More

Post Top Ad

Your Ad Spot