Knowledge Is Free

Hot

Sponsor

Rabu, 16 Maret 2016

Makalah Analisis Kebutuhan Bermain Anak Usia Dini

Maret 16, 2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

            
Untuk membantu seorang anak mencapai potensinya secara optimal, orangtua harus memastikan bahwa tahun-tahun prasekolah dipenuhi dengan kegembiraan.Bagi seorang anak, bermain adalah belajar dan belajar adalah menyenangkan.Bermain merupakan kegiatan yang penting bagi pertumbuhan danperkembangan fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual anak.Dengan bermain anak dapat mengenal lingkungan, berinteraksi, serta mengembangkan emosi dan imajinasi dengan baik.Pada dasarnya anak-anak gemar bermain, bergerak, bernyanyi dan menari, baik dilakukan sendiri maupun

berkelompok.Bermain adalah kegiatan untuk bersenang-senang yang terjadi secara alamiah. Anak tidak merasa terpaksa untuk bermain, tetapi mereka akan memperoleh kesenangan, kenikmatan, informasi, pengetahuan, imajinasi, dan motivasi bersosialisasi. Bermain memiliki fungsi yang sangat luas, seperti untuk anak, untuk guru, orang tua dan fungsi lainnya.bagi anak. Dengan bermain dapat mengembangkan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, daya cipta (kreativitas), bahasa, perilaku, ketajaman pengindraan, melepaskan ketegangan, dan terapi bagi fisik, mental ataupun gangguan perkembangan lainnya.
            Fungsi bermain bagi guru dan orangtua adalah agar guru dan orangtua dapat memahami karakter anak, jalan pikiran anak, dapat intervensi, kolaborasi dan berkomunikasi dengan anak.Fungsi lainnya adalah rekreasi, penyaluran energi, persiapan untuk hidup dan mekanisme integrasi (penyatuan) dengan alam sekitar.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    ANALISIS KEBUTUHAN BERMAIN ANAK
            Bermain bagi anak, selain merupakan alat belajar juga merupakan kebutuhan
bagi setiap anak. Diperlukan waktu yang cukup banyak untuk bermain bagi anak.terutama pada saat di usia dini,menurut Laurence Tecik diperlukan 4-5 jam perhari bagi anak untuk bermain, pada saat bermain anak dapat memenuhi kebutuhan geraknya. Penelitian oleh Kemper dinegri Belanda dengan memasangkan alat pedometer (alat pengukur langkah , skor 1 (satu) setara dengan satu langkah) anak yang aktif melakukan 102.000 langkah/ minggu, maka rerata memerlukan aktifitas fisik perhari adalah 102.000 : 7 = 14.000 per hari atau setara dengan 3,5 jam, jika 2 X 45 menit menunjukan skor 4000 langkah. Kebutuhan 3,5 jam tersebut tidak mungkin dipenuhi pada jam pelajaran di sekolah. Oleh sebab itu guru pendidikan jasmani harus dapat memenuhi kebutuhan gerak anak didiknya dengan berbagai alternatif permainan yang dapat dimainkan siswa saat jam istirahat atau dirumah, karena anak tidak merasa betah bila duduk seharian diruang kelas, mereka butuh bergerak dan bermain yang lebih banyak dan merasa gembira ketika menyongsong jam istirahat karena memiliki kesempatan untuk bermain sambil melepaskan kepenatan dan memulihkan kondisinya.
            Sedangkan menurut Claparade (dalam Satya, 2006) bermain bukan hanya memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan organ tubuh anak yang disebabkan aktif bergerak tetapi bermain juga berfungsi sebagai proses sublimasi artinya suatu pelarian dari perasaan tertekan yang berlebihan menuju hal-hal positif, melalui sublimasi anak akan menuju kearah yang lebih mulia, lebih indah dan lebih
kreatif. Adapun manfaat lain dari bermain bagi anak :
A.    Anak dapat kesempatan untuk mengembangkan diri, baik perkembangan fisik
            (melatih keterampilan motorik kasar dan motorik halus), perkembangan psiko         sosial (melatih pemenuhan kebutuhan emosi) serta perkembangan kognitif         (melatih kecerdasan).
B.     Bermain merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi.
C.     Bermain bagi anak adalah untuk melepaskan diri dari ketegangan.
D.    Bermain merupakan dasar bagi pertumbuhan mentalnya.
E.     Melalui bermain anak–anak dapat mengeluarkan energi yang ada dalamdirinya kedalam aktivitas yang menyenangkan.
F.      Melalui bermain anak-anak dapat mengembangkan imajinasinya seluas mungkin.
G.     Melalui bermain anak-anak dapat berpetualang menjelajah lingkungan danmenemukan hal-hal baru dalam kehidupan.
H.    Melalui bermain anak dapat belajar bekerjasama, mengerti peraturan, saling berbagi dan belajar menolong sendiri dan orang lain serta menghargai waktu.
I.       Bermain juga merupakan sarana mengembangkan kreatifitas anak.
J.       Bermain dapat mengembangkan keterampilan olahraga dan menari.
K.    Melatih konsentrasi atau pemusatan perhatian pada tugas tertentu.
B.     TAHAP KEBUTUHAN BERMAIN ANAK
1.      Usia 0-1 tahun, Dibutuhkan lingkungan bermain yang beragam dan memberikan stimulasi yang mendorong pengenalan pola-pola dan bentuk melalui penglihatan (alat sensori utama manusia untuk belajar). suara, sentuhan, pembelajaran kemajuan ke berbagai pengalaman belajar mudah di suatu lingkungan.
2.      Usia 1-2 tahun, Kegiatan-kegiatan kreatif diperlukan untuk memberikan ruangan bagi pengekspresian pikiran-pikiran dan perasaan, disamping sebagai pengalaman-pengalaman untuk menguji coba batas-batas dunia anak usia dini. Permainan kreatif memberikan anak cara untuk menjelajahi dunia khayal dan mengembangkan imajinasi melalui permainan dan peran.
3.      Usia 2-3 tahun, Pada usia ini permainan anak tentunya menjadi lebih kreatif dan imajinatif. Bermain peran dan kotak-kotak kostum semakin sering digunakan. Anak mulai menggunakan kuas, dan crayon-crayon yang kecil. Balok-balok yang digunakan juga semakin banyak bentuknya untuk dimainkan dan membangun sesuatu.
4.      Usia 3-4 tahun, Pentingnya bermain secara langsung maupun tidak langsung tidak dapat diremehkan. Melalui aktivitas-aktivitas bermain, berbagai prilaku dapat dicoba tanpa perlu khawatir dan membahayakan. Bermain peran juga dapat dilakukakan oleh anak. Permainan kreatif saat ini bisa dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas sekolah, dan bisa juga mengembangkan berfikir berbagai cara untuk memecahkan berbagai masalah.
5.      Usia 4-5 tahun, Anak-anak prasekolah semakin kreatif dan sangat suka bereksperimen karena hanya melalui pengalaman anak-anak merencanakan dan mengembangkan sekumpulan cara untuk melakukan sesuatu. Orangtua dapat membantu mengembanggkan bakat-bakat anak melalui beragam aktifitas kreatif.

C.    BERMAIN BERTUJUAN UNTUK PENGEMBANGAN
Para peneliti telah menemukan bahwa nilai-nilai bermain adalah sangat luas dan mengelilingi anak secara kognitif, social, emosi, dan fisik. Beberapa perkembangan anak saat bermain. Yaitu:
1.      Perkembangan kognitif, bermain adalah media penting dalam proses berfikir, yang berperan dalam perkembangan kognitif dengan memberikan cara terhadap berbagai pengalaman yang memperkaya pemikiran anak-anak. Bermain dapat melatih kemampuan anak menghadapi pengalaman, bermain mengkonsilidasi kemahiran-kemahiran mental yang baru, bermain berperan mengembangkan pikiran abstrak, bermain juga dapat melatih kreatifitas anak.
2.      Perkembangan sosial, belajar melihat dari suatu sudut pandang. Bermain membantu anak belajar bersikap benar sesuai norma-norma standard yang diterima dan melihat dari sudut pandang lain. Proses penting untuk perkembangan social anak adalah:
a.      Kesempatan menerapkan praktek pola-pola sosial yang tak terbatas. Anak-anak mencoba konvensi-konvensi sosial melalui bermain.
b.      Mendorong anak berinteraksi sosial.
3.      Perkembangan emosi, Media ekspresi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan. Dalam bermain, anak merasa nyaman dan menguasai perasaan-perasaannya. Dimana ia dapat mengekspresikan perasan-perasaan yang tak dapat diterima dengan cara-cara yang dapat di terima. Anak dapat memahami perasan-perasaan yang bertentangan. Seperti:
a.      Melembutkan kenyataan-kenyataan kehidupan
b.      Media pelepasan bagi anak-anak yang stress
c.       Memberikan kesempatan untuk memahami diri
4.      Perkembangan fisik
a.      Perkembangan fisik dan motorik
b.       Membantu menguji system keseimbangan
c.       Berpartisipasi terhadap pengembangan koordinasi tangan dan mata.

           


D.    TERAPI BERMAIN UNTUK KEBUTUHAN ANAK
Terapi bermain adalah metode terapi yang menyenangkan, berlangsung dalam waktu singkat, bertujuan untuk meningkatan kedekatan, rasa percaya diri dan keterikatan yang menyenangkan sehingga anak mempunyai tingkah laku yang sehat dan kreatif sesuai dengan usianya, yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah. Terapi bermain dapat dilakukan pada semua usia anak, namun sering dilakukan pada usia 18 bulan hingga 12 tahun. Terapi bermain secara umum dapat diterapkan dalam berbagai masalah perilaku, mulai dari perilaku menarik diri, depresi dan pasivitas hingga agresivitas dan hiperaktivitas.
            Contoh-contoh kegiatan yang didasarkan pada dimensi-dimensi terapi bermain:
1.      Beanbag game: tempatkan beanbag atau boneka mainan yang lembut diatas kepala orang tua. Letakkan tangan orang tua di bawah tangan anak yang terulur untuk menangkap boneka tersebut. Beri tanda-tanda dan jatuhkan boneka tersebut ke tangan anak dengan memiringkan kepala orang tua ke arah tangan anak.
2.      Buatlah gambar telapak tangan atau telapak kaki anak di selembaran kertas.
3.      Salah satu orang tua menyembunyikan bola kapas, misalnya dibelakang telingan anak dan minta orang tua yang lain untuk menemukannya.
4.      kedua orang tua duduk berhadapan dengan dipisahkan oleh selimut kecil, anak dalam kondisi dipangkuan salah satu orang tua. Dengan menggunakan tanda atau memanggil nama anak, selimut diangkat oleh kedua orang tua dan anak diminta untuk berjalan, berlari atau merangkak di bawah selimut ke arah orang tua yang satunya.
5.      Orang tua dan anak merangkak secepat mungkin mengelilingi bantal. Usahakan untuk dapat menangkap kaki orang yang ada di depannya. Jika anak berhasil menangkap kaki orang tua, balik arah dan lakukan sebaliknnya, orang tua berusaha menangkap kaki anak.
6.      Minta anak duduk/berbaring di atas bantal besar dan minta ia untuk memegang tepi bantal. Panggil nama anak dan jika dia menatap mata orang tua, tarik bantal tersebut berkeliling ruangan. Jika anak berhenti menatap mata orang tua, berhentilah menarik bantal.
7.      Anak berpindah ayunan dari lengan orang tua yang satu ke lengan orang tua yang lain.
8.      Tekan hidung anak dan katakan “tin..tin” tekan dagu dan katakanlah “tet”. Arahkan anak anda untuk menyentuh hidung dan dagu orang tua. Katakan “tin..tin” saat menyentuh hidung orang tua dan “tet” ketika anak menyentuh dagu orang tua. Anak mungkin juga dapat menghasilkan suara-suara sendiri.
9.       ci luk ba
10.  orang tua menggembungkan pipinya dan bantu anak untuk “meletuskan” pipi tersebut dengan tangan anak
11.  orang tua meletakkan anak diatas lutut, dan mengangkat-ngangkat anak dengan kecepatan yang bervariasi secara hati-0hati.
12.  Oleskan losion atau bedak pada tangan anak
13.  Dudukkan anak di kursi makannya atas pangku anak menghadap orang tuanya. Suapi anak dan dengarkan bunyi kunyahan atau tegukan airnya. Pertahankan kontak mata.
14.  Nyanyikan lagu untuk anak-anak. Adaptasi lirik lagu hingga menjadi spesial buat anak, jika bertema tentang anggota tubuh, sentuh anggota tubuh anak sesuai dengan lirik lagu.
15.  Beri special kisses. Misalnya dengan menempelkan hidung orangtua dengan hidung anak dan digoyang-goyangkan. Dengan kegiatan tersebut diharapkan orang tua dapat lebih menerima anak dan anak pun lebih merasa dimiliki dan dicintai.

                 









BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN       
            Bermain bagi anak merupakan upaya memenuhi tiga kebutuhan sekaligus yaitu kebutuhan fisik, emosi danstimulasi/pendidikan. Bahkan bermain bagi anak usia balita merupakan salah satu intervensi penting untuk mengurangi dampak menurunnya IQ pada balita yang mengalami gangguan gizi ketika bayi, khususnya apabila intervensi pemberian makanan bergizi terlambat dilakukan. Berdasarkan penelitian yang ada, anak ternyata emosi dan kecerdasan anak pun meningkat. Anak juga jadi lebih peka akan kebutuhan dan nilai yang dimiliki orang lain. Bermain bersama teman juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan orang lain. Hebatnya lagi, anak juga mampu menghargai perbedaan di antara mereka.
            Bermain juga merupakan suatu aktivitas dimana anka dapat melakukan atau mempraktikkan keterampilan,memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berprilaku dewasa. Sebagai suatu aktivitas yang memberikan stimulasi dalam kemapuan keterampilan, kognitif, dan afektif maka sepatutnya diperlukan suatu bimbingan, mengingat bermain bagi anak merupakan suatukebutuhan bagi dirinya sebagaimana kebtuhan lainnya seperti kebutuhan makan, kaebuthan rasa aman, kebutuhan kasih sayang dan lain-lain. Sebagai kebutuhan sebaiknya juga perlu diperhatikan secara cermat bukan hanya dijadikan mengisi kesibukan atau mengisi waktu luang. Perhatian selama proses bermain pada anak-anak sangat penting mengingat dalam proses bermain dapat ditemukan kekurangan dari kebutuhan bermain seperti kreativitas anak, perkembangan mental dan emosi yang harus diarahkan agar sesuai dengan proses kematangan perkembangan.


REFERENSI
Ali, ahmad. 2009, kebutuhan bermain anak sekolah dasar. Jakarta: PT indeks





Read More

Selasa, 15 Maret 2016

Makalah 9 Aspek Kecerdasan Howard Gardner

Maret 15, 2016
`



BAB I
PENDAHULUAN
 1.1 Latar Belakang

Teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence atau MI) merupakan istilah yang relatif baru yang dikenalkan oleh Howard Gardner. Jasmine (2007: 5) menjelaskan bahwa “Teori tentang Kecerdasan Majemuk (KM) adalah salah satu perkembangan paling penting dan paling menjanjikan dalam pendidikan dewasa ini”. Teori KM didasarkan atas karya Howard Gardner, pakar psikologi perkembangan, yang berupaya menciptakan teori baru tentang pengetahuan sebagai bagian dari karyanya di Universitas Harvard. Gardner berkenaan dengan teori tersebut,

yaitu Frame of Mind (1983) menjelaskan ada delapan macam [sekarang sembilan] kecerdasan manusia yang meliputi bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), dan naturalis (naturalits). 
Kecerdasan seringkali dimaknai sebagai kemampuan memahami sesuatudan kemampuan berpendapat. Dalam hal ini kecerdasan dipahami secarasempit sebagai kemampuan intelektual yang menekankan logika dalammemecahkan masalah. Kecerdasan dalam arti ini biasanya diukur darikemampuan menjawab soal-soal tes standar di ruang kelas (tes IQ). Testersebut menurut Thomas R. Hoerr, sebenarnya hanya mengukur kecerdasansecara sempit karena hanya menekankan pada kecerdasan linguistik danmatematis logis saja, meski dapat mengukur keberhasilan peserta didik disekolah, namun tidak bisa memprediksi keberhasilan seseorang di dunia nyatamencakup lebih dari sekedar kecakapan linguistik dan matematis-logis.
1.2 Rumusan Masalah
            a.    Bagaimana yang dikatakan hakikat kecerdasan?
              b. ` Teori Kecerdasan Howard Gardner


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Kecerdasan
  a.  Perkembangan Kecerdasan
            Secara biologis kecerdasan sangat dipengaruhi oleh kinerja otak. Kemampuan kinerja otak sangat ditentukan oleh jumlah sel syaraf dan jumlah hubungan antar sel syaraf otak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang cerdas memiliki jumlah sel syaraf otak dan jumlah hubungan antar sel syaraf otak lebih banyak.
            Pertumbuhan dan perkembangan sel syaraf otak saat prenatal, selain dipengaruhi oleh faktor genetis, juga dipengaruhi oleh makanan, makanan yang bergizi dan seimbang diperlukan tubuh agar sel syaraf otak dapat tumbuh secara optimal
            Selain mengkonsumsi makanan bergizi, ibu hamil juga perlu menghindari hal-hal yang menghambat pertumbuhan sel syaraf otak bayi. Terlalu banyak kafein akibat minum teh dan kopi berlebihan, terlalu banyak merokok,dan minum-minum keras,narkotika dan obat-obatan dapat menghambat pertumbuhan sel syaraf otak dan oleh karenanya hal itu perlu dihindari.
 b. Otak dan fungsinya
            Tidak diragukan lagi bahwa otak merupakan pusat kecerdasan. Otak berfungsi untuk berfikir, mengontrol emosi, dan mengkoordinasikan aktivitas tubuh. Kegiatan berfikir antara lain meliputi mengumpulkan fakta, mengingat memori, mencari alternatif pemecahan masalah. Otak juga berfungsi untuk menimbang baik dan buruk, sopan dan tidak sopan, salah dan benar dalam menentukan suatu perilaku. Otak juga merupakan pusat pengatur aktivitas tubuh seperti berjalan, mengambil sesuatu, makan, minum dan kegiatan yang lebih kompleks lainnya. Oleh karena itu otak disebut sebagai pusat kecerdasan.
            Banyak teori kecerdasan. Ada teori yang membagi kecerdasan menjadi kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan sosial(SQ), dan kecerdasan emosional(EQ) sangat ditentukan oleh fungsi otak. Bahkan perasaan manusia adalah bagian lain dari fungsi otak bukan fungsi hati atau jantung, seperti persepsi banyak orang, untuk itu kita perlu mengenali otak kita agar dapat menjaga dan merawatnya dengan sebaik-baiknya.
1.      Sejarah Intelligence Quotient (IQ)
            Kita sebagai manusia, memiliki kecenderungan untuk mengukur segala sesuatu. Barangkali dizaman modern, pencarian cara baru untuk mengukur kecerdasan diawali dengan penciptaan tes IQ. Di Paris, pada awal 1990-an, Alfred Binet diminta untuk mengembangkan sebuah alat yang dapat mengenali anak-anak dengan mental terbelakang dan membutuhkan bantuan ekstra. Saat itulah, tes kecerdasan standar yang pertama di dunia terlahir. Peneliti lain mengembangkan tekhnik pemberian serangkaian pertanyaan kepada anak-anak. Mereka mencatat pertanyaan yang dapat dijawab dengan betul oleh hampir semua anak, pertanyaan yang dijawab oleh sebagian besar, pertanyaan yang hanya bisa dijawab sebagian kecil, dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh seorang pun. Informasi ini digunakan untuk merancang sebuah tes yang akan membedakan tingkat-tingkat pengetahuan siswa, disusun sedemikian rupa sehingga skor 100 akan menunjukkan kecerdasan rata-rata. Gagasan bahwa kecerdasan dapat diukur secara objektif dan dilaporkan dengan sebuah skor akhirnya berakar. Hampir seabad kemudian, banyak sekali tes standar tersedia untuk beragam tujuan, dan semuanya didasarkan pada pemikiran Binet bahwa sebuah tes dapat menghasilkan angka yang menggambarkan seluruh kemampuan dan potensi seseorang.
2.      Penyalahgunaan dan penggunaan berlebihan tes IQ dan tes standar lainnya
     Meskipun berbagai jenis tes IQ punya perannya sendiri dan dapat digunakan dalam banyak hal secara absah, sering terjadi penyalahgunaan dan penggunaan berlebihan. Penyalahgunaan dan penggunaan berlebihan terjadi karena tes IQ mudah digunakan, murah, dan diterima (bahkan sering ditunggu-tunggu ) oleh masyarakat.
     Tes prestasi dan IQ massal bisa sangat murah. Murid-murid melingkari jawaban mereka dan lembar jawaban itu dikirimkan untuk diperiksa dengan mesin. Tes yang relatif tidak mahal ini menarik karena banyak sekolah beroperasi dengan dana ketat dan masyarakat terbiasa dengan tes tersebut.
     Kelebihan tes standar adalah bahwa tes ini dapat diandalkan,memberika skor yang sama sepanjang waktu,dan dapat dibandingkan walaupun dilakukan pada tempat dan waktu berbeda. Kelemahannya adalah bahwa tes ini belum tentu absah, apa yang diukur mungkin berbeda dengan apa yang sesungguhnya ingin dinilai.
2.2. Teori Kecerdasan Howard Gardner
            Gardner membuat kriteria dasar yang pasti untuk setiap kecerdasan agar dapat membedakan talenta atau bakat secara mudah sehingga dapat mengukur cakupan yang lebih luas potensi manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gardner pada mulanya memaparkan tujuh aspek intelegensi yang menunjukkan kompetensi intelektual yang berbeda, kemudian menambahkannya menjadi 8 aspek kecerdasan,yang terdiri dari kecerdasan linguistik ( word smart ), kecerdasan logika matematika (number/reasoning smart), kecerdasan fisik/kinestetik ( body smart ), kecerdasan spasial (picture smart), kecerdasan musikal (musical smart ), kecerdasan intrapersonal (self smart ), kecerdasan interpersonal (people smart ), dan kecerdasan naturalis ( natural smart ) tetapi dalam paparan ini di tambahkan menjadi 9 yaitu kecerdasan spiritual. Karena penulis meyakini adanya kecerdasan ini dalam kehidupan masyarakat indonesia yang kental dengan nuansa keberagamaan.
            Kesembilan kecerdasan tersebut diatas dapat saja dimiliki individu, hanya saja dalam taraf yang berbeda. Selain itu, kecerdasan ini juga tidak berdiri sendiri, terkadang bercampur dengan kecerdasan yang lain. Atau dengan perkataan lain dalam keberfungsiannya satu kecerdasan dapat menjadi medium untuk kecerdasan lainnya. Sebagai contoh untuk menyelesaikan konsep penjumlahan dalam matematika, seorang anak tidak hanya menggunakan kecerdasan logika matematika yang harus berhadapan deretan angka-angka, tetapi lebih mudah baginya ketika ia menyelesaikan soal tersebut dengan kecerdasan linguistiknya di mana soal tersebut diberikan dalam bentuk cerita yang lebih mudah untuk dimengerti olehnya.
            Selanjutnya Jasmine (1999:34) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan kecerdasan jamak sangat lah penting untuk mengutamakan perbedaan individual pada anak didik. Implikasinya teori dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah bahwa pengajar perlu memperhatikan modalitas kecerdasan dengan cara menggunakan berbagai strategi dan pendekatan sehingga anak akan dapat belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.
            Terdapat berbagai model pembelajaran yang dapat dipilih sehingga sesuai dengan cara dan gaya belajar anak. Hal ini merupakan agar anak dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan yang lebih penting adalah rasa senang dan nyaman dalam belajar dan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya yang berbeda-beda tersebut (stefanakis, 2002:2).
a.   Sembilan kecerdasan jamak (howard gardner) mencakup berbagai kemampuan untuk :
1.      Verbal linguistik
·         Berfikir lancar melalui kata-kata
·         Mengekspresikan ide yang kompleks melalui kata-kata
·         Memahami arti dan urutan kata

2.      Logika matematika
·         Menggunakan sistem angka yang abstrak
·         Menemukan hubungan antara perilaku, objek dan ide-ide
·         Menggunakan keterampilan beralasan secara berurutan

3.      Kinestetika
·         Berfikir melalui gerakan, menggunakan tubuh secara ekspresif
·         Tahu kapan dan bagaimana bereaksi
·         Meningkatkan keterampilan fisik

4.      Visual spasial
·         Berfikir melalui gambar
·         Memvisualisasikan presentasi 3 dimensi
·         Menggunakan imajinasi dan interpretasi grafik secara kreatif

5.      Musikal
·         Berfikir melalui suara dan irama
·         Mereproduksi musik dan notasi dalam lagu
·         Sering memainkan instrumen

6.      Spiritual
·         Memandang makna kehidupan ini sesuai kodrat manusia sebagai makhluk tuhan
·         Menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai hidup
·         Membangun sikap toleransi pada sesama makhluk

7.      Naturalistik
·         Memahami dunia alamiah
·         Membedakan, mengklasifikasikan dan menggunakan ciri-ciri, fenomena, dll dari alam
·         Berinteraksi dengan makhluk hidup dan tumbuhan

8.      Interpersonal
·         Memahami suasana hati dan perasaan orang lain
·         Memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, menghibur dalam berbagai perspektif
·         Memegang peran dalam kepemimpinan

9.      Intrapersonal
·         Kesadaran diri kritis/tinggi
·         Kesadaran akan kekuatan dan kelemahan diri individu
·         Merefleksikan kemampuan berfikir/proses belajar


2.3. Verbal Linguistik
 A. Pengertian
            Amstrong (2002:2) berpendapat bahwa kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, meyakinkan orang, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Kecerdasan ini memiliki empat keterampilan, yaitu menyimak, membaca, menulis dan berbicara.
            Campbell, Campbell, dan Dickinson (2002:13-29) menjelaskan bahwa tujuan pengembangan kecerdasan linguistik adalah :
1.      Agar anak mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan baik
2.      Memiliki kemampuan bahasa untuk meyakinkan orang lain
3.      Mampu mengigat dan menghafal informasi
4.      Mampu memberikan penjelasan dan
5.      Mampu untuk membahas bahasa itu sendiri.
Sujiono dan sujiono (2004:285-288) menguraikan bahwa materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan linguistik, antara lain pengenalan abjad, bunyi, ejaan, membaca, menulis, menyimak, berbicara atau berdiskusi dan menyampaikan laporan secara lisan, serta bermain games atau mengisi teka-teki silang sederhana.
Kiat untuk mengembangkan kecerdasan linguistik pada anak sejak usia dini, antara lain dapat dilakukan dengan cara berikut:
·         Mengajak anak berbicara sejak bayi, anak memiliki pendengaran yang cukup baik sehingga sangat dianjurkan sekali berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan mengajaknya berbicara.
·         Membacakan cerita atau mendongeng sebelum tidur atau dapat dilakukan kapan saja sesuai situasi dan kondisi.
·         Bermain mengenalkan huruf abjad dapat dilakukan sejak kecil, seperti bermain huruf-huruf sandpaper (amplas), anak belajar mengenali huruf dengan cara melihat dan menyentuhnya, di samping mendengarkan setiap huruf yang diucapkan oleh orang tua atau guru. Seiring dengan pemahaman anak  akan huruf dan penggunanya, yaitu dengan bermain kartu bergambar berikut kosa katanya.
·         Merangkai cerita, sebelum dapat membaca tulisan, anak-anak umumnya gemar “membaca gambar”. Berikan anak potongan gambar dan biarkan anak mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentang gambar itu.
·         Berdiskusi tentang berbagai hal yang ada di sekitar anak. Bertanya tentang yang ada di lingkungan sekitar, misalnya mungkin anak mempunyai pendapat sendiri tentang binatang peliharaan di rumah. Apapun pendapatnya, orang dewasa harus menghargai isi pembicaraanya.
·         Bermain peran, ajaklah anak melakukan suatu adegan seperti yang pernah ia alami, misalnya saat berkunjung kedokter. Bermain peran ini dapat membantu anak mencobakan berbagai peran sosial yang diamatinya.
·         Memperdengarkan dan perkenalkanlah lagu anak-anak, ajaklah anak ikut bernyanyi dengan penyanyi yang mendendangkan lagu dari kaset yang diputar. Kegiatan ini sangat menggembirakan anak, selain mempertajam pendengaran anak, memperdengarkan lagu juga menuntut anak untuk menyimak setiap lirik yang dinyanyikan yang kemudian anak menirukan lagu tersebut dan juga menambah kosa kata dan pemahaman arti kata bagi anak.




BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kesembilan kecerdasan tersebut diatas dapat saja dimiliki individu, hanya saja dalam taraf yang berbeda. Selain itu, kecerdasan ini juga tidak berdiri sendiri, terkadang bercampur dengan kecerdasan yang lain. Atau dengan perkataan lain dalam keberfungsiannya satu kecerdasan dapat menjadi medium untuk kecerdasan lainnya. Sebagai contoh untuk menyelesaikan konsep penjumlahan dalam matematika, seorang anak tidak hanya menggunakan kecerdasan logika matematika yang harus berhadapan deretan angka-angka, tetapi lebih mudah baginya ketika ia menyelesaikan soal tersebut dengan kecerdasan linguistiknya di mana soal tersebut diberikan dalam bentuk cerita yang lebih mudah untuk dimengerti olehnya.












DAFTAR PUSTAKA
Sujiono, Yuliani Nurani & Sujiono, Bambang.2010.Bermain Kreatif  Berbasis Kecerdasan Jamak.PT     Indeks
Thomas R,Hoer .2000.Buku Kerja Multiple Intelligences.PT Mizan Pustaka
Suyanto, Slamet.2005.Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional
Mustaqim.2004.Psikologi Pendidikan,Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo








                                                             
Read More

Post Top Ad

Your Ad Spot