Knowledge Is Free

Hot

Sponsor

Rabu, 20 Januari 2016

MAKALAH QARD DALAM LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

Januari 20, 2016 0




2.1.  Pengertian Qard

Secara harfiyah, qard berarti bagian, bagian-bagianharta yang dibagikan kepada orang lain. Secara Istilah, qard merupakan akad peminjaman harta kepada oranglain dengan adanya pengembalian.
Qard adalah memberikan (menghutangkan) harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan, untuk dikembalikan dengan pengganti yang sama dan dapat ditagih atau diminta kembali kapan saja yang menghutangi menghendaki. Akad qard adalah akad tolong menolong, bertujuan untuk meringankan beban orang lain.

Qard yang menghasilkan manfaat diharamkan jika disyaratkan sebelumnya. Misalnya seseorang meminjamkan mobil kepada temannya asalkan peminjam mau mentraktirnya. Larangan ini sesuai dengan hadist Rossululloh SAW diriwayatkan oleh Ubay Bin Ka’ab Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas bahwa Rosululloh SAW melarang mereka melakukan qarld yang mensyaratkan “manfaat”. Jika peminjam memberikan manfaat tambahan tanpa dipersyaratkan di awal, maka ia dianggap sebagai hadiah. Dan bagi pemilik barang punya hak untuk menerimanya.
Qardl juga tidak boleh menjadi syarat akad lain seperti jual beli. Misalnya seorang pedagang meminjamkan sepeda motor kepada temannya, asalkan temannya itu berbelanja di tempatnya. Maka akad qardl seperti ini diharamkan. Persyaratan pemberian sejumlah kelebihan yang muncul akibat transaksi qardl dipandang sebagai tindakan yang tidak menjunjung tinggi aspek kemanusiaan. Inilah yang menjadi titik kritik dilarang mengambil keuntungan dibalik akad hutang menghutang.
Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, qard adalah penyediaan dana atau tagiahan antar lembaga keuangan syariah dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam untuk melakukan pembayaran secara tunai atau cicilan dalam jangka waktu tertentu. Definisi yang dikemukakan dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah bersifat aplikatif dalam akad pinjam-meminjam antara nasabah dan Lembaga Keuangan Syariah.

2.2.  Dasar Hukum Qard
Dalil Al-Qur’an adalah firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah : 245
Description: D:\QURAN_DIGITAL\GIF\2\2_245.GIF




Artinya : Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.
Sisi pengadilan dari ayat diatas adalah bahwa Allah SWT menyerupakan amal saleh dan memberi infak fi sabilillah dengan harta yang dipinjamkan dan merupakan pembalasannya yang berlipat ganda kepada pembayaran hutang. Amal kebaikan disebut pinjaman (utang) karena orang yang berbuat baik melakukannya untuk mendapatkan gantinya sehingga menyerupai orang yang mengutangkan sesuatu agar mendapat gantinya.
Ayat diatas sebenarnya berpesan akan pentingnya orang untuk selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Barang siapa yang melakukan demikian, maka Allah SWT akan melipat gandakan harta mereka. Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah penyebutan oleh Allah SWT bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT dengan sebutan “member pinjaman kepada Allah”. Meksudnya adalah Allah mengumpamakan pemberian seseorang kepada hambanya dengan tulus untuk kemaslahatan hambaNya (dinafkahkan dijalan Allah (penulis)) sebagai pinjaman kepada Allah, sehingga ada jaminan bahwa pinjaman tersebut kelak akan dikembalikan pada oleh Allah SWT hari kiamat. Orang tersebut akan mendapatkan balasan atas perbuatan baiknya.
Dasar hukum lain dalam Al-Qur’an adalah keuman dalil Al-Qur’an tentang anjuran untuk saling tolong menolong dan berbuat baik antar sesama yaitu Q.S An-Naml:89
Description: D:\QURAN_DIGITAL\GIF\27\27_89.GIF




Artinya :Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu.

Ayat Al-Qur’an diatas menerangkan tentang penghargaan terhadap orang yang berbuat baik dengan sesama. Janji Al-Qur’an yang akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari kebaikan yang dilakukan untuk orang lain tersebut merupakan sebuah anjuran agar orang-orang mau berbuat kebajikan. Memberikan pinjaman kepada sesama yang sedang membutuhkan merupakan bagian dari kebajikan. Oleh karena itu, disinilah titik temu ayat tersebut sebagai landasan akad qard (hutang piutang).
Selain ayat di atas, beberapa hadist juga dapat dijadikan sebagai landasan hukum, seperti hadist dari Nabi SAW beliau besabda bahwa orang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Ia tidak mendzalimi dan tidak menjerumuskan muslim yang lain. Barang siapa dapat memenuhi kebutuhan saudaranya maka sesungguhnya Allah SWT akan memenuhi hajatnya. Dan barang siapa melonggarkan kesulitan seorang muslim maka Allah SWT akan melonggarkan kesulitannya besok dihari kiamat. Dan barangsiapa menutupi cela seorang muslim maka Allah SWT akan menutupi celanya besok hari kiamat.
Hadist di atas memuat tentang penegasan Rasululloh SAW bahwa sesama muslim adalah saudara. Terkait dengan itu, dalam hadist tersebut ditegaskan bahwa bagi seorang muslim dianjurkan untuk melakukan tiga hal; pertma tidak saling mendzalimi dan menjerumuskan ke dalam kerusakan. Kedua, saling membantu memenuhi kebutuhan diantara mereka, ketiga,berusaha untuk saling menghilangkan kesulitan diantara mereka. Tindakan seperti ini dianggap sebgai tindakan yang sangat terpuji. Islam sangat menganjurkannya.
Pesan kedua dan ketiga di atas sesuai dengan semangat yang ada dalam akad al-qard. Seseorang yang meminjam sejumlah uang kepada orang lain adalah seseorang yang sedang dalam kesulitan. Maka bagi muslim lain yang kebetulan dalam kelonggaran sangat dianjurkan untuk dapat membantunya dengan memberikan pinjaman semata-mata untuk menutup kesulitan tersebut. dalam konteks inilah hadist Abu Daud tersebut dapat dijadikan landasan hukum bagi akad al-Qardl.
Secara ijma’ juga dinyatakan bahwa qard diperbolehkan, qard bersifat mandub (dianjurkan) bagi muqridh (orang yang menghutangi) dan mubah bagi muqtaridh (orang yang berhutang).

2.3.  Rukun Dan Syarat Qard
Rukun  qard ada empat yaitu :
1.      Muqridl yaitu orang yang mempunyai barang-barang untuk dihutangkan.
2.      Muqtaridl yaitu orang  yang mempunyai hutang.
3.      Muqtaradl yaitu obyek yang dihutangkan.
4.      Sighat akad yaitu ijab dan qabul.
Adapun syarat-syarat yang terkait dengan akad qardl, dirinci berdasarkan rukun akad qardl di atas :
1.      Syarat Aqidain (muqridl dan muqtaridl);
a.       Ahliyatu al-tabarru’ (layak bersosialisasi) adalah orang yang mampu bertasyarufkan hartanya sendiri secara mutlak dan bertanggung jawab. Dalam pengertian ini anak kecil yang belum mempunyai kewenangan untuk mengelola hartany, orang cacat ,mental dan budak tidak boleh melakukan akad qardl.
b.      Tanpa ada paksaan, bahwa muqridl dalam memeberikan hutangnya tidak dalam tekanan dan paksaan orang lain, demikian juga muqtaridl. Keduanya melakukannya secara suka rela.
2.      Syarat Muqtaradl (barang yang menjadi obyek qarld) adalah barang yang bermanfaat dan dapat dipergunakan. Barang yang tidak bernilai secara syar’i tidak bisa ditransaksikan.
3.      Syarat Shighat, ijab qabul menujukan kesepakatan kedua belah pihak, dan qardl tidak boleh mendatangkan manfaat bagi muqridl. Demikian juga shighat tidak mensyaratkan qardl bagi akad lainnya.

2.4.  Manfaat Qard Dalam Dunia Usaha
Manfaat qard dalam dunia usaha banyak sekali, diantaranya sebagai berikut :
a)      Memungkinkan pengusaha yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk mendapat talangan jangka pendek.
b)      Dalam Al-Qard Al-hasan terkandung misi sosial, adanya misi kemasyarakatan ini akam meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat kepada perbankan syariah.
c)      Memudahkan para pengusaha atau nasabah yang memerlukan dana secara cepat, tanpa memberatkan nasabah karena qord tidak memperbolehkan adanya bunga dan jaminan. Lembaga keuangan syariah dapat meminta jaminan kepada nasabah bilamana dipandang perlu (Fatwa Dewan Syariah Nasional, 2011)

2.5.  Aplikasi Qard Dalam Lembaga Keuangan Syariah
Akad qard merupakan akad tolong menolong. Maka dalam perbankan syariah akad ini dapat digunakan untuk menjalankan kegiatan sosial bank syariah, yaitu dengan memberikan pinjaman murni kepada orang yang membutuhkan tanpa dikenakan apapun. Meskipun demikian nasabah tetap berkewajiban untuk mengembalikan dana tersebut, kecuali jika bank mengikhlaskannya.
Jika dengan pinjaman ini nasabah berinisiatif untuk mengembalikan lebih dari pinjaman pokok, bank sah untuk menerima selama kelebihan tersebut tidak diperjanjikan di depan.
Dalam perbankan syariah, akad ini dijalankan untuk fungsi sosial bank. Dananya bisa diambilkan dari dana zakat, infak, dan sadaqah yang dihimpun oleh bank atau diambilkan dari keuntungan yang didapatkan oleh bank. Cara pengembaliannya yaitu dengan cara diangsur maupun dibayar sekaligus. Bank diperbolehkan mengenakan biaya administrasi, sesuai dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional NO: 19/DSN-MUI/IV/2001 Tentang Al-Qardh yang memperbolehkan untuk pemberi pinjaman agar membebankan biaya administrasi kepada nasabah. Dalam penetapan besarnya biaya administrasi sehubungan dengan pemberian qardh, tidak boleh berdasarkan perhitungan persentasi dari jumlah dana qardh yang diberikan. Akad qard biasanya diterapkan sebagai berikut :
a.       Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya, yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang relative pendek. Nasabah tersebut akan mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamkan itu. Misalnya dana talangan haji yang diberikan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji dan nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatan haji.
b.      Sebagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia tidak bisa menarik dananya misalnya tersimpan dalam bentuk deposito. Ataupun pinjaman qard biasanya diberikan oleh bank kepada nasabahnya sebagai fasilitas pinjaman talangan pada saat nasabah mengalami over draft. Fasilitas ini merupakan bagian dari satu paket pembiayaan lain, untuk memudahkan nasabah bertransaksi. Seperti penarikan uang tunai milik bank melalui ATM dan nasabah akan mengembalikannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
c.       Sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau membantu sektor sosial. Guna pemenuhan skema khusus ini telah dikenal suatu produk khusus yaitu al-qard al-hasan.
d.      Sebagai pinjaman bagi pengurus bank seperti menyediakan fasilitas untuk kebutuhan pengurus bank dan pengurus nantinya akan mengembalikan dana tersebut dengan cara cicilan melalui pemotongan gajinya.


                                                                          
BAB III
KESIMPULAN
Qard adalah memberikan (menghutangkan) harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan, untuk dikembalikan dengan pengganti yang sama dan dapat ditagih atau diminta kembali kapan saja yang menghutangi menghendaki. Akad qard adalah akad tolong menolong, bertujuan untuk meringankan beban orang lain.
Dasar hukum qard terdapat pada Q.S Al-Baqarah : 245, Q.S An-Naml : 89, dasar hukum qard juga terdapat pada hadist dan ijma. Rukun qard yaitu muqridl, muqtaridl, muqtaradl, dan sighat. Sedangkan syarat qard terdiri dari syarat aqidain, syarat muqtaradl, dan syarat shighat.
Secara umum manfaat dari qard adalah unutk membantu orang yang membutuhkan dana secara mudah dan dapat dikembalikan tanpa adanya bunga yang dapat membebani orang tersebut.
Aplikasi qard dalam perbankan lembaga keuangan syariah yaitu sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang membutuhkan talangan dana secepatnya, sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau membentu sektor sosial.



DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Yazid. 2009.Fiqh Muamalah. Yogyakarta : Logung Pustakan
Djuwaini, Dimyauddin.2008. Pengantar Fiqh Muamalah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah. Jakarta : Kencana Media Group

Nita. Qard. 26 November 2015. https://nitigama.wordpress.com/tag/qardh/
Read More

Selasa, 19 Januari 2016

MAKALAH ETIKA BISNIS DAN RISIKO ASURANSI

Januari 19, 2016 0




2.1. PENGERTIAN ETIKA BISNIS 

Etika adalah tatanan nilai moral dan standar perilaku yang membentuk dasar bagi orang-orang dalam suatu organisasi sewaktu mereka membuat keputusan dan berinteraksi dengan pihak stakeholder dalam perusahaan.
Tujuan etika adalah untuk memungkinkan individu membuat berbagai pilihan di antara perilaku alternatif.

Etika bisnis merupakan suatu kode etik perilalku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dan pedoman berprilaku dalam menjalankan kegiatan perusahaaan atau bisnis.
Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat.
Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.
Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :
§  Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
§  Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
§  Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.



2.1.1. Hal-Hal Yang Mempengaruhi Keputusan Bisnis
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan. .
Ada beberapa kelompok yang dapat mempengaruhi kepentingan bisnis diantaranya:
a.       Para pengusaha dan  mitra usaha
b.      Perusahaan pemasok bahan baku
c.       Organisasi pekerja yang mewakili pekerja
d.      Pemerintah yang mengatur kelancaran aktivitas usaha
e.       Bank penyandang dana perusahaan
f.       Investor penanam  modal
g.      Masyarakat umum yanag dilayani
h.      Pelanggan yang membeli produk

2.1.2. Prinsip dalam Etika Bisnis
Dalam etika bisnis berlaku prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh para pelaku bisnis. Etika bisnis memiliki prinsip-prinsip yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip-prinsip etika bisnis sebagai berikut:

1.      Prinsip Otonomi
Yaitu kemampuan mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang diambil.

2.      Prinsip Kejujuran
Bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak berlandaskan kejujuran karena kejujuran merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis (missal, kejujuran dalam pelaksanaan kontrak, kejujuran terhadap konsumen, kejujuran dalam hubungan kerja dan lain-lain).

3.      Prinsip Keadilan
Bahwa tiap orang dalam berbisnis harus mendapat perlakuan yang sesuai dengan haknya masing-masing, artinya tidak ada yang boleh dirugikan haknya.

4.      Prinsip Saling Menguntungkan
Agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan, demikian pula untuk berbisnis yang kompetitif.

5.      Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini merupakan dasar dalam berbisnis dimana para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha bisnis mereka harus menjaga nama baik perusahaan agar tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik.
Di samping 5 prinsip diatas, dalam menciptakan etika bisnis ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan, antara lain adalah:
1.      Pengendalian diri
2.      Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
3.      Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4.      Menciptakan persaingan yang sehat
5.      Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6.      Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi)
7.      Mampu menyatakan yang benar itu benar
8.      Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah
9.      Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
10.  Kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
11.  Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa  peraturan perundang-undangan.

Perilaku Etis penting diperlukan untuk sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif baik lingkup makro ataupun mikro.
1.      Perspektif Makro
Pertumbuhan suatu negara tergantung pada efektivitas dan efisiensi sistem pasar dalam mengalokasikan barang dan jasa. Beberapa kondisi yang diperlukan supaya sistem dapat bekerja secara efektif dan efisien adalah:
§  Adanya hak memiliki dan mengelola properti swasta
§  Adanya kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa
§  Adanya ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa
Jika salah satu subsistem dalam sistem pasar ini melakukan perilaku yang tidak etis, maka hal ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan mengambat pertumbuhan sistem secara makro.
2.      Perspektif Mikro
Dalam lingkup mikro perilaku etis identik dengan kepercayaan atau trust. Dalam lingkup mikro terdapat rantai relasi dimana pemasok (supplier), perusahaan, konsumen, karyawan saling berhubungan dalam kegiatan bisnis yang saling mempengaruhi. Tiap mata rantai di dalam relasi harus selalu menjaga etika sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan bisnis dapat terjaga dengan baik.



2.2 TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR)
Corporate Social Responsibility (CSR) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah Tanggung Jawab Social Perusahaan adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

2.2.1. Macam-Macam Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Menurut zimmerer ada beberapa pertanggungjwaban perusahaan, yaitu:
1.      Tanggung jawab terhadap lingkungan.
Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan, melestarikan, dan menjaga lingkungan, misalnya tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan.
2.      Tanggung jawab terhadap karyawan
Menurut zimmerer Tanggung jawab terhadap karyawan dapat dilakukan dengan cara:
·         Menghormati dan mendengarkan pendapat karyawan
·         Meminta Masukan kepada karyawan
·         Memberi kepercayaan kepada karyawan
·         Memberi imbalan kepada karyawan yang bekerja dengan biak
·         Selalu menekankan kepercayaan kepada karyawan
·         Tanggung jawab terhadap pelanggan.

Tanggung jawab terhadap pelanggan ada dua kategori:
·         Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas
·         Memberikan harga barang dan jasa yang adil dan wajar

3.      Tanggung Jawab terhadap investor
Tanggung Jawab terhadap investor adalah menyediakan pengembalian investasi yang menarik, seperti memaksimumkan laba
4.      Tanggung jawab terhadap Masyarakat
Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap Masyarakat sekitarnya, misalnya menyediakan pekerjaan dan menciptakan kesehatan serta kontribusi terhadap mayararakat sekitarnya.

2.2.2    MANFAAT ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Adapun manfaat perusahaan berperilaku etis dan memiliki tanggung jawab sosial adalah:
1.      Perusahaan yang etis dan memiliki tanggung jawab social mendapatkan rasa hormat dari steakholder
2.      Perusahaan yang memiliki etika bisnis yang baik dan memiliki tanggung jawab social akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen dan masyarakat sekitar.
3.      Perusahaan yang memiliki tanggung jawab social terhadap lingkungan akan membantu dalam pembangunan daerah sekitar perusahaan
4.      Menghindarkan dari konflik internal dan lingkungan sekitar perusahaan
5.      Tanggung  jawab social Secara tidak langsung Membantu dalam promosi perusahaan
6.      Kerangka kerja yang kokoh memandu  manager dan karyawan perusahaan sewaktu berhadapan dengan rumitnya pekerjaan dan tantangan jaringan kerja yang semakin komplek
7.      Suatu perusahaan akan terhindar dari seluruh pengaruh yang merusak berkaitan dengan reputasi
8.      Banyak perusahaan yang menerapkan perilaku etis dan tanggung jawab social dapat menambah uang dalam bisnis mereka biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.


2.3 RISIKO DAN ASURANSI

2.3.1 Risiko
Pengertian risiko dalam asuransi adalah ketidakpastian akan terjadinya suatu
peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian ekonomis.
Berdasarkan sifatnya risiko dibagi menjadi risiko murni dan risiko spekulatif
  • Risiko murni adalah risiko yg dilihat dari segi kerugiannya saja, missalnya menghadapi kesulitan atau kehilangan dalam hubungannya dengan mencairkan dan pada waktu tanggal jatuh tempo sebagai akibat pailitnya bank atau direktur bank ygb bersangkutan melarikan diri dengan membawa uang nasabah, dengan demikian deposan tersebut menderita kerugian.
  • Risiko spekulatif yg melahirkan dua kemungkinan. Di satu pihak lain dapat menimbulkan keuntungan, misalnya A menjual mobilnya pada B dengan harga yg murah, di satu pihak merugikan bagi A di satu pihak menguntungkan bagi B

Risiko berdasarkan objek yg di kenal dapat di bagi menjadi tiga bagian :
  • Risiko perseorangan atau pribadi (personal risk)
  • Risiko harta kekayaan ( property risk)
  • Risijo tanggung jawab (liability risk)


ASURANSI

 2.3.2 Asuransi

Asuransi adalah salah satu bentuk pengendalian risiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan/transfer risiko dari satu pihak ke pihak lain. Pengertian asuransi yang lain adalah merupakan suatu pelimpahan risiko dari pihak pertama kepada pihak lain. Dalam pelimpahan dikuasai oleh aturan-aturan hukum dan berlakunya prinsip-prinsip serta ajaran yang secara universal yang dianut oleh pihak pertama maupun pihak lain.

Dari segi ekonomi, asuransi berarti suatu pengumpulan dana yang dapat dipakai
untuk menutup atau memberi ganti rugi kepada orang yang mengalami kerugian.

manfaat asuransi

  • sebagai bentuk pengendalian risiko (secara finansial)


Asuransi juga memiliki berbagai manfaat yang diklasifikasikan ke dalam fungsi utama, fungsi skunder, dan fungsi tambahan.

Fungsi utama asuransi

  • sebagai pengalihan risiko
  • pengumpulan dana dan premi yang seimbang
  •  
Fungsi sekunder asuransi

  • untuk  merangsang
  • pertumbuhan usaha
  • mencegah kerugian
  • pengendalian kerugian
  • memiliki manfaat sosial dan sebagai tabungan.

Fungsi tambahan asuransi

  • sebagai investasi dana .

Tidak semua risiko dapat diasuransikan. Resiko-risiko yang dapat diasuransikan
adalah : risiko yang dapat diukur dengan uang, risiko homogen (risiko yang sama dan cukup banyak dijamin oleh asuransi), risiko murni (risiko ini tidak mendatangkan keuntungan), risiko partikular (risiko dari sumber individu), risiko yang terjadi secara tiba-tiba (accidental), insurable interest (tertanggung memiliki kepentingan atas obyek pertanggungan) dan risiko yang tidak bertentangan dengan hukum.















BAB III
PE
NUTUP

3.1 Kesimpulan
Etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntutan dan pedoman berperilaku dalam menjalankan kegiatan perusahaan atau berusaha.
Tanggungjawab sosial bisnis merupakan aktivitas perusahaan sebagai integral guna kelangsungan hidup perusahaan. Identifikasi dan tanggungjawab sosial Hodgetts & Kuratko (1990) secara lebih spesifik memasukkan tanggung jawab terhadap lingkungan, energi, praktik bisnis yang baik/adil, tanggungjawab terhadap tenaga kerja dan kemanusiaan,
risiko dalam asuransi adalah ketidakpastian akan terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian ekonomis. Asuransi adalah salah satu bentuk pengendalian risiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan/transfer risiko dari satu pihak ke pihak lain.














DAFTAR PUSTAKA

Solihin, Ismail. 2006. Pengantar bisnis Pengenalan Praktis Dan Studi Kasus. Kencana Prenada Media Group. Jakarta

Sukirno, Sadono. 2006. Pengantar Bisnis.  Kencana Prenada Media Group.

www.cakzainul.blogspot.com

www.anneahira.co
m














Read More

Post Top Ad

Your Ad Spot