Responsive Ads Here

Saturday, December 12, 2015

MAKALAH MANUSIA DAN HAK ASASI MANUSIA (HAM)

KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji penulis panjatkan ke hadirat allah SWT, yang telah membimbing manusia dengan petunjuk-petunjuk-Nya sebagaimana yang telah terkandung dalam al Quran dan as Sunnah, petunjuk menuju jalan yang lurus dan jalan yang diridhoi-Nya. Begitu pula penulis bersyukur kepada-Nya yang telah memudahkan penulisan makalah ini.
Shalawat serta salam semoga senantiasa dihaturkan kepada Nabi Muhammad saw, para keluarga, sahabat, dan para pengikutnya sampai di hari akhir kelak nanti, terutama mereka yang senantiasa memelihara keutuhan, kemurnian sunnah-sunnah beliau dengan cara yang baik dan pengamalan yang dituturkan.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Syariah Dan HAM yang diampu oleh dosen tercinta yakni Mujaid Kumkelo, M.Hi. Mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa. Hususnya dalam penambahan informasi bagi mahasiswa dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Malang,  21 Maret  2015


Penyusun

                                    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, manusia dan berbagai hal dalam dirinya sering menjadi perbincangan diberbagai kalangan. Hampir semua lemabaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli telah mencetuskan pengertian manusia sejak dahulu kala, namun sampai saat ini belum ada kata sepakat tentang pengertian manusia yang sebenarnya. Hal ini terbukti dari banyaknya sebutan untuk manusia, misalnya homo sapien (manusia berakal), homo economices (manusia ekonomi) yang kadangkala disebut Economical Animal (Binatang ekonomi), dan sebagainya.
Agama islam sebagai agama yang paling baik tidak pernah menggolongkan manusia kedalam kelompok binatang. Hal ini berlaku selama manusia itu mempergunakan akal pikiran dan semua karunia Allah SWT dalam hal-hal yang diridhoi-Nya. Namun, jika manusia tidak mempergunakan semua karunia itu dengan benar, maka derajad manusia akan turun, bahkan jauh lebih rendah dari seekor binatang. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 179.
Sangat menariknya pembahasan tentang manusia inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengulas sedikit tentang Manusia Menurut Pandangan Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi dari manusia menurut Islam.?
2.      Apakah definisi dari manusia menurut Umum dan para ahli.?
3.      Apakah konsep dasar manusia.?
4.      Bagaimanakah tanggung jawab manusia menurut islam.?
5.      Bagaimanakah Hakikat manusia.?


C.    Tujuan
1.      Untuk menjelaskan pengertian manusia menurut Islam.
2.      Untuk menguraikan pengertian manusia menurut umum dan para ahli.
3.      Untuk memahami konsep dasar manusia.
4.      Untuk menjelaskan tanggung jawab manusia menurut islam.
5.      Untuk menguraikan hakikakt manusia.


PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN MANUSIA MENURUT ISLAM
Al-qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan social. Hal ini terepretansi dari tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia, yakni basyar, insan dan an-nas. Konsepsi manusia dalam terminology basyar dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 37 kali. Salah satunya disebutkan dalam surat al-Kahfi: 110 yaitu:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ  (الكهفي: 110)
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku. (al-Kahfi: 110)
Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering. Sebagaimana disebutkan dalam surat al-Far: 33 dan ar-Rum: 20. Kata basyar dimaknai juga sebagai manusia yang membutuhkan makan dan minum sebagaimana dalam surat al-Mu’minun: 33. Basyar adalah makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.[1]
Konsepsi basyar sering kali dimaknai sebagai konfigurasi sikap kedewasaan manusia yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab sebagai khalifah dimuka bumi. Seperti yang disinggung dalam surat al-Hijr: 28 dan surat al-Baqarah: 30. Kata basyar sendiri dipakai untuk menunjukan pada dimensi alamiyyah, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, makan, minum dan mati.[2]
Sedangkan konsepsi manusia dengan terminologi al-inssan disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 65 kali. Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk berfikir, diberi ilmu dan memikul amanah. Hal ini sebagai mana disebutkan dalam surat al-Alaq: 5 dan al-Ahzab: 72.
Kata insan, jika dilihat dari genologi etimologinya diambil dari kata "nasiya-yansa" yang berarti lupa. Kondisi ini menunjukan adanya kaitan antara manusia dengan kesadaran diri. Apabila manusia lupa terhadap sesuatu, maka berarti ia kehilangan kesadaran terhadap hal tersebut. Untuk penyebutan manusia, kata insan berakar dari “al-uns” atau “anisa” yang berarti jinak dan harmonis. Karena manusia pada dasarnya mempunyai kecerdasan untuk beradaptasi serta menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya.[3]
Sementara konsepsi manusia dengan terminologi an-nas disebut dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali. Konsep an-nas menunjukan kepada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif. Dengan demikian al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah SWT, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan an-nas selalu bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Ia dibebankan aturan-aturan dan diberikan kekuatan untuk menaatinya atau tidak. Ia menjadi makhluk yang mukhayyar (bias dipilih), namun harus siap mempertanggungjawabkan tindak-tanduknya.[4]
Menurut agama islam manusia diartikan sebagai makhluk Allah SWT yang memiliki unsur dan jiwa yang arif, bijaksana, berakal, bernafsu, dan bertanggung jawab pada Allah SWT. Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya. Adapun dalilnya ayat al-Qur’an sebagai berikut:[5]
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At Tin : 4)
Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
B.     PENGERTIAN MANUSIA MENURUT UMUM DAN PARA AHLI
Pengertian manusia dapat dilihat dari berbagai segi. Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi[6].
Pengertian manusia menurut para ahli
1.    NICOLAUS D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang
2.    ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana"
3.    UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana ataubadan fisik
4.    I WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.
5.    ERBE SENTANU
Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
6.    PAULA J. C & JANET W. K
Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.

C.    HAKIKAT MANUSIA
Manusia dalam pandangan Islam terdiri atas dua unsur, yakni jasmani dan rohani. Jasmani manusia bersifat materi yang berasal dari unsur unsur saripati tanah. Sedangkan roh manusia merupakan substansi immateri berupa ruh. Ruh yang bersifat immateri itu ada dua daya, yaitu daya pikir (akal) yang bersifat di otak, serta daya rasa (kalbu). Keduanya merupakan substansi dari roh manusia.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang selalu berkembang dengan pengaruh  lingkungan sekitarnya karena makhluk utuh ini memiliki potensi pokok yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani. Hal lain yang menjadi hakikat manusia adalah mereka berkecenderungan beragam. Sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi pokok paling banyak, manusia menjadi menarik untuk diteliti. Manusia yang sebagai subjek kajian mengkaji manusia sebagai objek kajiannya dalam hal karya, dampak karya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Namun, sampai sekarang manusia terutama ilmuwan belum mencapai kata sepakat tentang manusia[7].
Dalam bukunya Man the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia. Beliau menulis :
"Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki pembendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui dari segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini masih tetap tanpa jawaban".

Manusia diberi Allah potensi yang sangat tinggi nilainya seperti pemikiran, nafsu, kalbu, jiwa, raga, panca indera. Namun potensi dasar yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya terutama hewan adalah nafsu dan akal/pemikiran. Manusia memiliki nafsu dan akal, sedangkan binatang hanya memiliki nafsu. Manusia yang cenderung menggunakan nafsu saja atau tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Allah lainnya secara baik dan benar, maka manusia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi binatang, walaupun Al-Quran tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang seperti yang dinyatakan Allah dalam Al-Quran (Q.S. Al A’raf : 179) :[8]
Mereka (jin dan manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda tanda keksuasaan Allah), punya telinga tetap tidak mendengar (ayat ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan, bahkan lebih rendah (lagi) dari binatang.

D.    TANGGUNG JAWAB MANUSIA MENURUT ISLAM
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.[9]
Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang.
Kekuasaan manusia sebagai wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah :
“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lainhanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya.
Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4) yang artinya “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Di dalam Al Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna.
Kemudian hak dan kewajiban itu diatur oleh pemerintah agar setiap Individu menghargai hak dan kewajiban masing-masing individu. Atau sering disebut Hak Asasi Manusia (HAM[10]

PENUTUP

  Kesimpulan 

Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi, manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Manusia adalah makhluk yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Dalam Al Quran sudah begitu lengkap semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia sehingga dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna. Kemudian hak dan kewajiban itu diatur oleh pemerintah agar setiap Individu menghargai hak dan kewajiban masing-masing individu. Atau sering disebut Hak Asasi Manusia (HAM)


















Daftar Pustaka

Ali, M. Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada).
Kumkelo, Mujaid, dkk, 2015. Fiqh HAM Ortodoksi dan Liberalisme Hak Asasi Manusia Dalam Islam, (Malang: Setara Pres).
Ma'arif, Ahmad Syafi'I. 2007. Pemikiran Peradaban Islam. (Yogyakarta: Safiria Insania Press,).
Rakhmat, Jalaludin, 1994. Konsep-Konsep Antropologis dalam Al-Qur’an dalam Mudhy Munawar-Rachman (Ed), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina,)
Shihab, M. Quraish, 1998. Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan)



[1] Mujaid Kumkelo, dkk, Fiqh HAM Ortodoksi dan Liberalisme Hak Asasi Manusia Dalam Islam, (Malang: Setara Pres, 2015), h.1
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1998), h. 279
[3] Mujaid Kumkelo, dkk, Fiqh HAM Ortodoksi dan Liberalisme Hak Asasi Manusia Dalam Islam , h.2
[4] Jalaludin Rakhmat, Konsep-Konsep Antropologis dalam Al-Qur’an dalam Mudhy Munawar-Rachman (Ed), Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1994), h.80
[5] M. Quraish Shihab.. Wwasan Al-Quran. (PT Mizan Pustaka : Bandung, 2007). h. 275.
[6] M. Daud Ali. Pendidikan Agama Islam. (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 1998). h. 78.

[7] M. Quraish Shihab. h. 280.
[8]   M. Quraish Shihab. h. 282.
[9]  Ibid. 285.
[10]  Ahmad Syafi'I Ma'arif.. Pemikiran Peradaban Islam. (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2007). h. 90.