Monday, November 9, 2015

MAKALAH PENGERTIAN FILSAFAT MANUSIA (ANTROPOLOGIS) - Filsafat Manusia

 A.     Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang paling unik dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga sangat menarik untuk dikaji. Ia semakin berkembang dari hari kehari untuk bertahan hidup dan menjadi lebih baik. Selain itu manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna penciptaannya dari makhluk lain. Dengan panca indera, manusia berusaha memahami benda-benda konkrit. Namun tidak sampai di situ saja, manusia memiliki akal pikiran yang senantiasa bergolak dan berpikir dalam memahami situasi dan dan kondisi yang terjadi di alam. Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan.
Filsafat Manusia adalah cabang filsafat yang hendak secara khusus merefleksikan hakekat atau esensi dari manusia. Filsafat Manusia sering juga disebut sebagai Antropologi Filosofis. Filsafat Manusia memiliki kedudukan yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, seperti etika, epistemologi, kosmologi, dll. Akan tetapi Filsafat Manusia juga memiliki kedudukan yang istimewa, karena semua persoalan filsafat itu berawal dan berakhir tentang pertanyaan mengenai esensi dari manusia, yang merupakan tema utama refleksi Filsafat Manusia.

B.     Tujuan
1.      Untuk memahami pengertian dan ruang lingkup filsafat manusia
2.      Untuk memahami hakekat manusia
3.      Untuk memahami ciri-ciri filsafat manusia
4.      Untuk memahami esensi manusia











BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Filsafat Manusia
Filsafat manusia adalah cabang filsafat khusus yang secara spesifik mempelajari hakekat/esensi manusia. Filsafat adalah metode pemikiran yang membahas tentang sifat dasar dan hakikat kebenaran yang ada di dunia ini. Filsafat manusia adalah bagian filsafat yang membahas apa arti manusia sendiri secara mendetail.
Antropologi filsafat atau yang lebih dikenal dengan filsafat manusia adalah bagian integral dari sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya psikologi dan antropologi) adalah gejala manusia. Pada dasarnya ilmu ini bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.[1]
Secara umum dapat dikatakan, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empiris. Bentuk atau gejala apapun tentang manusia, sejauh yang dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsafat manusia. Metode penelitiannya pun lebih spesifik, misalnya melalui sintesis dan refleksi. Sintesis dan dan refleksi bisa dilakukan sejauh gejalanya bisa dipikirkan. Dan karena apa yang bisa dipikirkan jauh lebih luas daripada apa yang bisa diamati secara empiris, maka pengetahuan atau informasi tentang gejala manusia di dalam filsafat manusia, pada akhirnya, jauh lebih ekstensif (menyeluruh) dan intensif (mendalam) daripada informasi atau teori yang didapatkan oleh ilmu-ilmu tentang manusia.
Filsafat manusia jelasnya adalah filsafat yang mengupas apa arti manusia sendiri, ia mencoba mengucap sebaik mungkin apa sebenarnya makhluk itu yang disebut “manusia”, istilah filusuf manusia atau “antropologi filusuf” (antropos dalam bahasa Yunani berarti manusia) tampak lebih eksok karena apa yang dipelajari dengannya adalah manusia sepenuhnya, roh serta badan jiwa serta daging.
Alasan untuk mempelajari filsafat manusia cukup jelas. Pertama manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan dan kewajiban (sampai batas tertentu) untuk menyelidiki arti yang dalam “dari yang ada” kerap kali dalam usia remaja manusia merasa dalam dirinya sendiriang paling pribadi suatu dorongan yang menurut Sokrates, telah didengarnya di bawah langit Delphi : “Kenalilah dirimu sendiri”.
Manusia secara bahasa disebut juga insan, yang dalam bahasa arabnya berasal dari kata ‘nasiya’ yang berarti lupa. Dan jika dilihat dari kata dasar ‘al-uns’ yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia memiliki cara keberadaan yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir, dan berfikir tersebut yang menentukan manusia pada hakekat manusia.
Ada beberapa pandangan para ahli tentang filsafat manusia ini, yaitu:
1.      Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan mahluk yang lain.  Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional dan intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi trasendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya.[2]
2.      Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perspektif. Ada yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini diyakini oleh para filosof. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik, pernyataan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut.[3]
3.      Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja. Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang, ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuh-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli makhluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu bagian yang lain manusia juga disebut sebagai homo ludens (mahluk yang senang bermain). Dalam bermain manusia memiliki ciri khasnya dalam suatu kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Permainan dalam sejarahnya juga digunakan untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagai ritual suci.
4.      Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya. Binatang langsung menyatu dengan kegiatan hidupnya, sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dan kesadarannya. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya dan keturunannya, sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurut ukuran dan kebutuhan jenis produksinya, manusia berproduksi menurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang inheren, dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Manusia dalam bekerja secara bebas dan universal, bebas dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung, universal dikarenakan ia dapat memakai beberapa cara untuk tujuan yang sama. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu kebutuhan. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hanya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaan manusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal.[4]
5.      Menurut Paulo Freire manusia merupakan satu-satunya mahluk yang memiliki hubungan dengan dunia. Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah, dan hidup dalam masa kini yang kekal, yang mempunyai kontak tidak kritis dengan dunia, yang hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas, keterarahan, temporaritas dan trasendensi) yang menjadikan mahluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk menyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dan kesadaran manusia bersifat historis, manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal, yang menunjukan disini berhubungan disana, sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. manusia menciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah.[5]

B.     Hakekat Manusia
Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya, seperti dalam pandangan monoteisme, yang mencari unsur pokok yang menentukan yang bersifat tunggal, yakni materi dalam pandangan materialisme, atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme, atau dualisme yang memiliki pandangan yang menetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan yaitu materi dan rohani, yakni pandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnya mencerminkan unsur yang ada dalam marco kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia pada kesatuannya dua unsur, ataukah mono pluralisme yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yang membentuknya. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya, akan tetapi bukan berarti bahwa ia tidak dapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu, akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat, kedudukan, dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi.[6]

C.     Kedudukan Filsafat Manusia Dalam Kehidupan Manusia
1.      Memberikan pengertian dan kesadaran kepada manusia akan arti pengetahuan tentang kenyataan yang diberikan oleh filfafat.
2.      Berdasarkan atas dasar hasil-hasil kenyataan itu, maka filsafat memberikan pedoman hidup kepada manusia. Pedoman itu mengenai sesuatu yang terdapat di sekitar manusia sendiri, seperti kedudukan dalam hubungannyadengan yang lain. Kita juga mengetahui bahwa alat-alat kewajiban manusia meliputi akal, rasa, dan kehendak. Dengan akal filsafat memberikan pedoman hidup untuk berpikir guna memperoleh pengetahuan. Dengan rasa dan kehendak, maka filsafat memberikan pedoman tentang kesusilaan mengenai baik dan buruk.[7]

      Filsafat bukanlah ilmu positif seperti fisika, kimia, biologi, tetapi filsafat adalah ilmu kritis yang otonom di luar ilmu-ilmu positif. Tiga unsur pembentukan manusia, yaitu:
1.      Pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan lingkungannya
Pengetahuan menjadi unsur yang penting dalam usaha membentuk manusia yang lebih baik. Dalam hal ini ilmu lebih kritis daripada hanya menerima apa yang didapat dari pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud di sini lebih pada pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan dunianya. Ketika manusia mengetahui dan mengenal dirinya secara penuh, ia akan hidup secara lebih sempurna dan lebih baik dalam dunia yang adalah dunianya. Berkaitan dengan itu manusia juga membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan atau dunianya. Dengan pengetahuan yang ia miliki tentang dunia atau lingkungannya, manusia dapat mengadaptasikan dirinya secara cepat dan lebih mudah.
2.      Manusia Dalam Hubungannya Dengan Hidup Komunitas
Manusia ternyata tidak hidup sendirian dalam dunianya. Ia hidup dalam hubungan dan membutuhkan manusia lain, yang menunjukkan hakikat dari manusia, yaitu sebagai makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat membentuk dan mengembangkan dirinya sehingga dapat hidup secara lebih baik, lebih bijaksana dan lebih kritis. Dengan demikian manusia pada hakikatnya hidup bersama dengan orang lain atau hidup dalam suatu komunitas tertentu, mengalami kehidupan polis. Jadi, kebersamaannya dengan orang lain dalam suatu komunitas inilah yang turut menentukan pembentukan yang memperkenankan manusia itu hidup atas cara yang lebih baik dan lebih sempurna dalam dunianya.
Unsur lain yang dapat membantu membentuk manusia sehingga manusia dapat hidup secara lebih baik, lebih bijaksana adalah agama. Dengan kata lain, agama mengandung nilai-nilai universal yang pada hakikatnya mengajarkan yang baik bagi penganutnya.

D.     Hubungan Filsafat Manusia Dengan Disiplin Ilmu Lain Tentang Manusia
1.      Psikologi membahas objek materi yakni manusia. Ilmu ini hanya membahas manusia dari segi psikis yang dapat diperoleh dari melihat perilaku manusia, menjelaskan gejala-gejala jiwa dan mental, bagaimana pengalaman manusia dapat mempengaruhi kehidupan selanjutnya dan menjelaskan perkembangan manusia dari masa prenatal hingga menjelang kematian.
2.      Sosiologi juga membahas objek materi yakni manusia. Namun, ilmu ini membatasi diri untuk mencoba menjawab perilaku manusia dari ruang lingkup sosialnya, menjelaskan status sosial, pranata sosial, dan menjelaskan bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri.
3.      Antropologi juga membahas objek materi yakni manusia. Namun, ilmu ini membatasi pada pola kebudayaan dan peradaban yang telah diciptakan manusia atau ditinggalkan manusia, menjelaskan hasil-hasil kebudayaan, suku, etnis, dan ras suatu masyarakat yang bersifat lokal.

E.      Esensi Dan Eksistensi Filsafat Manusia Serta Peranan Manusia
Model esensi adalah pendekatan dalam filsafat kepada suatu objek dengan cara yang abstrak. Model ini memandang manusia terlepas dari situasi dan perkembangannya. Model esensi hanya memperhatikan kodrat yang menentukan manusia sebagai manusia. Sementara itu model eksistensi adalah pendekatan dalam filsafat kepada suatu objek dengan memandangnya secara menyeluruh. Manusia dipandang secara konkret secara utuh dalam keberadaannya. Model eksistensi tidak percaya akan kodrat yang menentukan manusia.
1.      Esensi Manusia Menurut Sejumlah Aliran dalam Filsafat
Di dalam filsafat manusia terdapat beberapa aliran. Tiap-tiap aliran memiliki pandangan tentang hakikat atau esensi manusia yang berbeda-beda. Dari sekian banyak aliran, terdapat dua aliran tertua dan terbesar, yaitu materialisme dan idealisme. Sedangkan aliran-aliran lain, pada prinsipnya merupakan reaksi yang berkembang kemudian terhadap kedua aliran tersebut.
a.       Materialisme
·         Essensi manusia bersifat material/fisik menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan dan bersifat objektif sehingga dapat diukur, dihitung, diobservasi.
·         Tidak ada aspek spiritual dibalik yang material.
·         Materialisme/Naturalisme. Istilah materi diganti dengan istilah nature/alam setiap gejala/gerak dapat dijelaskan menurut hukum kausalitas. Gerak disebabkan karena ada gerak eksternal yang menggerakkan.
·         Kaum materialis pada umumnya sangat deteministik gerak bersifat mekanis untuk menggerakkan manusia adalah mesin.
·         Manusia adalah bagian dari alam/materi, manusia adalah objek yang substansinya aalah berkeluasan, manusia adalah mesin/kumpulan sel dan sistem syaraf. Manusia adalah daging tanpa jiwa yang menempati ruang waktu, mengalami perkembangan dan penyusutan sejalan dengan perjalanan waktu.
·         Manusia merupakan makhluk deterministik/tidak memiliki kebebasan. Perilaku manusia adalah akibat dari suatu sebab eksternal. Manusia bertindak karena ada suatu sebab yang mendahului (stimulus) yang menuntut untuk diberikan respons/reaksi.
b.      Idealisme
·         Kenyataan sejati bersifat spiritual, yaitu spiritualisme ada kenyataan dibalik setiap penampakan/kejadian esensi dari kenyataan spiritual adalah berpikir, karena tidak dapat diukur atau dijelaskan berdasarkan pada pengamatan empiris menggunakan metafor kesadaran manusia. Kekuatan spiritual bersifat rasional, berkehendak, berperasaan, kreatif, dll.
·         Penganut idealisme berpandangan deterministik, roh absolut/Tuhan adalah bebas dan tidak terhingga tetapi manusia sebagai bagian dari roh absolut maka tidak bebas dan berhingga. Kedudukan dan tindakan manusia sudah diatur sebelumnya oleh roh absolut. Tidak ada kebebasan individual/kolektif, karena yang bebas itu hanya roh absolut. Individualisme: personalisme, menekankan bahwa roh bersifat pribadi-pribadi/individu masing-masing berdiri sendiri sehingga setiap pribadi/individu mempunyai kebebasan untuk mengekpresikan dirinya. Kebalikan dari materialisme adalah idealisme.
c.       Dualisme
·         Kenyataan sejati bersifat fisik maupun spirt hal/merupakan perpaduan materi dan roh.
·         Keberadaan tubuh tidak menolak keberadaan jiwa yang keberadaannya tidak dapat diamati secara indrawi tetapi dapat dibuktikan melalui ratio.
·         Contoh : Menurut Descartes. Menurut Descartes, keberadaan jiwa karakteristiknya adalah res cogitans (berfikir) justru lebih jelas dan tegas dibandingkan dengan keberadaan tubuh. Untuk membuktikannya maka perlu berfikir secara skeptis, misalnya meragukan keberadaan apa saja yang bersifat fisik (computer, kekasih yang berada disamping kita dan keberadaan tubuh kita sendiri). Semua itu bisa diragukan keberadaannya atau hanya halusinasi kita, hanya dalam  mimpi dan bukan kenyataan yang sebenarnya. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak bisa diragukan keberadaannya, yaitu “aku” yang sedang meragukan atau sedang berfikir. Descartes menyebutnya “Cogito ergo sum”- “aku berfikir (meragukan), maka aku ada.
d.      Vitalisme
·         Kenyataan sejati bersifat energi, daya, kekuatan atau nafsu yang bersifat irrasional.
·         Acuan vitalisme adalah ilmu biologi dan sejarah biologi mengajarkan bahwa kehidupan ditentukan oleh kekuatan untuk bertahan hidup agar tetap dapat survei berdasarkan naluri kehendak buta (schopenhawer), kehendak untuk berkuasa (nietzche) => sejarah dan peradaban manusia digerakkan oleh dorongan tidak rational dan liar.

e.       Eksistensialisme
·         Essensi manusia bersifat kongkret, individual, dinamis. Existere (eks = keluar, sistere = ada) istilah eksistensi adalah sesuatu yang mampu melampui dirinya sendiri.
·         Hanya manusia yang bereksistensi/sanggup keluar dari dirinya melampuai keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya.
f.       Strukturalisme
·         Menempatkan struktur/sistem bahasa, budaya sebagai kekuatan-kekuatan yang menentukan perilaku bahkan kesadaran manusia, manusia tidak bebas yang berstruktur oleh sistem bahasa dan budayanya.
·         Tidak ada perilaku, pola piker dan kesadaran manusia yang bersifat individual dan unik yang bebas dari sistem bahasa dan budaya yang mengungkapkannya. Artinya aliran ini secara tegas menolak humanisme, menolak pandangan tentang kebebasan dan keluhuran (keagungan) manusia. Strukturalisme juga tidak mengakui adanya “ego”, “aku”  atau “kesadaran”. Aliran ini berpendapat bahwa “aku” atau manusia bukanlah pusat realitas. Makna dan keberadaaan manusia pada dasarnya tidak tergantung pada diri manusia itu sendiri, melainkan pada kedudukan dan fungsinya dalam sistem.
g.       Posmodernisme
·         Hampir sama dengan strukturalisme, tapi manusia didominasi oleh sistem-sistem kecil yang bersifat jamak.
·         Aliran posmodernisme ini hampir sama dengan strukturalisme.
·         Kedua ailiran ini boleh disebut anti humanisme, jika humanisme dipahami sebagai pengakuan atas keberadaan dan didominasi “aku” yang terlepas dari sistem atau kondisi yang mengitari hidupnya. Akan tetapi berbeda dengan posmodernisme yang membahas tentang aspek kehidupan manusia yang lebih beragam dan actual.
·         Posmodernisme menentang bukan hanya “aku” yang seolah-olah bebas dan mampu  melepaskan diri dari sistem sosial budayanya, tetapi juga menafikan dominasi sitem sosial, budaya, politik, kesenian, ekonomi bahkan arsitektur.
2.      Eksistensi dan peranan manusia
Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Tetapi sebelum membahas tentang peran dan kedudukan, pengulangan kembali tentang esensi dan eksistensi manusia. Manusia yang memiliki eksistensi dalam hidupnya sebagai abdullah (kedudukan ketuhanan), an-nas (kedudukan antar manusia), al insan (kedudukan antar alam), al basyar (peran sebagai manusia biasa) dan khalifah (peran sebagai pemimpin).
Kedudukan dan peran manusia adalah memerankan ia dalam kelima eksistensi tersebut. Misalkan sebagai khalifah di muka bumi sebagai pengganti Tuhan manusia di sini harus bersentuhan dengan sejarah dan membuat sejarah dengan mengembangkan esensi ingin tahu menjadikan ia bersifat kreatif dan dengan di semangati nilai-nilai trasendensi. Manusia dengan Tuhan memiliki kedudukan sebagai hamba, yang memiliki inspirasi nilai-nilai ketuhanan yang tertanam sebagai penganti Tuhan dalam muka bumi.
Manusia dengan manusia yang lain memiliki korelasi yang seimbang dan saling berkerjasama dalam rangka memakmurkan bumi. Manusia dengan alam sekitar merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa syukur kita terhadap Tuhan dan bertugas menjadikan alam sebagai subjek dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Setiap apa yang dilakukan oleh manusia dalam pelaksana pengganti Tuhan sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Maqasid asy-syari’ah merupakan tujuan utama diciptanya sebuah hukum atau mungkin nilai esensi dari hukum, di mana harus menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, akal dan, ekologi. Manusia yang memegang amanah sebagai khalifah dalam melakukan keputusan dan tindakannya sesuai dengan maqasid asy-syari’ah. Ada tiga rantai kehidupan, yaitu:
a.       Hubungan kepada Tuhan (Manusia sebagai hamba)
Dalam kondisi sosial tertentu, tidak sedikit manusia yang melupakan faktor ketuhanan sehingga mereka menjadi atheis. Utamanya bagi penganut materialisme yang mempercayai bahwa segala sesuatu berasal dari benda. Tidak ada unsur spiritual yang membuat benda itu tercipta. Hal ini bertolak belakang dengan ajaran agama-agama di dunia yang mengatakan sumber segala sumber ialah Tuhan.
Temuan sejarah mengenai ilmu relativitas membuktikan tidak adanya gerak atau benda yang absolut. Jika banyak orang menyebut Einsten sebagai penemu teori relativitas, bagaimana dengan fakta bahwa Al-Kindi seorang ilmuwan Muslim abad ke 9 sudah menyinggung teori yang dipaparkan Albert Einsten 1.100 tahun setelahnya? Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, benda semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat seperti Galileo, Descartes dan Newton menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi.
Tuhan diwujudkan sebagai objek pengabdian makhluk di dalam agama. Sebagai orang yang percaya adanya Tuhan, mansia dituntut untuk mampu berinteraksi dengannya melalui ajaran spiritual kepercayaan masing-masing yang dianut. Antara satu agama dengan yang lain ternyata mempunyai kesamaan di tiga tititk simbiolis tersebut di atas. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu sebagai agama yang dibenarkan di dalam Indonesia masing-masing memiliki metode tersendiri.
Dalam hal ketuhanan setiap agama memiliki penyembahan yang berbeda-beda. Agama, apapun itu pasti mengajarkan hubungan kepada Tuhan sebagai hubungan yang dinomor satukan. Ini tidak berarti mengutamakan hubungan ketuhanan dan memandang remeh hubungan-hubungan yang lain. Namun ketiga hubungan sebagai manusia perlu dijalankan secara bersamaan. Hanya saja hubungan kepada Tuhan hendaknya dijadikan patokan untuk berhubungan dengan dua yang lain. Manusia dan alam merupakan ciptaan Tuhan. Sebagai manusia perlu adanya interaksi kepada semua makhluk agar kearifan kehidupan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
b.      Hubungan Antar Manusia (Manusia sebagai makhluk sosial)
Hubungan lain yang harus dijalankan manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial ialah hubungan antarmanusia itu sendiri. Setelah membahas mengenai hubungan kepada Tuhan, pasti menimbulkan perbedaan pendapat antara satu golongan dengan golongan yang lain. Tuhan yang dibahasakan secara berbeda oleh masing-masing keyakinan bisa menjadi sumber perpecahan apabila tidak dipahami secara kemanusiaan. Bahwa setiap manusia itu berbeda-beda, pilihan keagamaan merupakan jalan pribadi yang tidak dapat diganggu gugat keabsahannya.
Munculnya gerakan sparatis menggunakan atribut agama menjadi contoh bagaimana oknum manusia mengedepankan ego pribadi dibanding kepentingan masyarakat luas. Hal ini menjadi ironi apabila pergerakan itu semakin melebarkan sayapnya dan semakin disalahpahami oleh masyarakat luas. Pengatasnamaan negara merupakan wujud dari mispersepsi kehidupan keberagaman yang menjadi simbol perpecahan umat. Perlu dibangun sebuah peradaban manusia yang benar-benar memahami nilai-nilai keberagaman. Manusia kepada manusia tidak diartikan dengan monoisme teologi yang tidak mungkin dicapai kesepakatan apabila benar-benar digencarkan. Apakah oknum-oknum tersebut melupakan satu hal bahwa ada faktor lain yang bisa merubah jalan hidup manusia? Faktor itulah yang dijadikan oleh Tuhan sebagai ujian kepada makhluk-Nya dan benar-benar menjadi rahasia serta hak preogratifnya. Semua orang boleh mengklaim dirinya lebih baik dibanding yang lain. Namun itu terbatas pada tataran keyakinan yang tidak harus diungkapkan dengan gerakan-gerakan yang justru membuat hubungan antarmanusia menjadi terhalang. Merasa lebih baik merupakan sifat manusiawi yang tidak dapat dihilangkan, namun dapat dikendalikan dengan pemahaman-pemahaman asas ketuhanan.
c.       Hubungan kepada Alam (Manusia sebagai makhluk)
Hubungan terpenting lainnya ialah hubungan kepada alam. Alam tidak terjustifikasi sebagai bentuk dari pepohonan, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Namun alam mencakup semua hal, baik alam yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Spiritualisme menjadi aliran yang dominan apabila pembahasan merambah ke alam yang tidak terlihat (ghaib). Di alam ini terdapat makhluk-makhluk lain yang secara penciptaan sejajar dengan manusia dan partikel alam lain, namun memiliki keistimewaan yang berbeda dengan material yang tampak. Perlu pemahaman khusus mengenai alam ini untuk dapat mempercayai dan meneliti keberadaannya. Kepercayaan terhadap hal ghaib ini berpengaruh terdapat hubungan ketuhanan sebab beberapa aliran keagamaan tidak menggambarkan secara detail bagaimana wujud Tuhan sesungguhnya.
Dapat disimpulkan hal ini sangat berkaitan dengan keyakinan. Untuk objek material mungkin tidak perlu menggali lebih dalam. Hanya saja nilai-nilai keberagaman perlu dipupuk agar manusia bisa memahami sisi kehidupan lain selain kehidupan bangsanya. Ada hewan, tumbuh-tumbuhan dan partikel lain yang butuh sentuhan tangan bijak manusia yang berperan sebagai pemimpin. Fungsi manusia sebagai khalifah terlihat menonjol peranannya dalam kehidupan kompleks di dunia antara manusia dan alam.
3.      Beberapa perananan sebagai manusia, yaitu:
a.       Peran manusia sebagai manusia biasa
Tujuan hidup manusia dari penciptaan hingga kembali kepada dzat yang menciptakan menapaki beberapa tahap. Keterhubungan dan ketersaling-ketergantungan menjadi sistem kehidupan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Konsekuensinya manusia disebut sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika ada segolong atau sekelompok manusia yang menyatakan dirinya paling benar, berarti ia mengabaikan prinsip manusia yang saling bergantung. Dalam tiga konsep besar yang melibatkan Tuhan, manusia dan alam di atas, peran manusia tidaklah serta merta menjadi komunitas yang terbaik tanpa dorongan fasilitas dari faktor-faktor lain. Manusia tidak akan mampu membangun gedung-gedung tinggi tanpa peran besi baja yang diolah menjadi alat-alat berat. Atau jika lebih ke dalam, manusia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa jaminan tumbuhan dan binatang yang menjadi santapannya.
Maka klasifikasi makhluk dititikberatkan pada data, bukan semerta-merta menjadikan manusia sebagai komunitas terbaik yang boleh melakukan seenaknya kepada bagian makhluk yang lain. Karena kesewenang-wenangan ini menjadikan gagalnya manusia dalam menjalani perannya sebagai khalifah (pemimpin).
b.      Peran manusia sebagai khalifah
Tidak perlu dipertanyakan lagi ketika seseorang mengatakan manusia diciptakan sebagai makhluk paling sempurna (menurut aliran filsafat idealisme/spiritualisme). Sehingga kesempurnaan itu dituntut untuk dapat digunakan sebagai alat kepemimpinan manusia atas bagian-bagian alam yang lain. Baik atau rusaknya alam merupakan dampak dari kepemimpinan manusia. Sebagai pemimpin di muka bumi, manusia diajarkan bagaimana cara memimpin yang baik. Lagi-lagi kembali kepada tiga konsep besar di atas. Dari Tuhan manusia memiliki kekuatan dan pengetahuan yang jika diimplementasikan terhadap kata ‘manusia sebagai khalifah’ akan menjadi sangat ideal. Karena hanya manusialah makhluk yang memiliki akal dan nurani yang masing-masing menjadi pengontrol bagian lainnya. Dengan akal manusia mengonsep, dan dengan nurani manusia dapat membenarkan tindakannya. Begitu pula, jika nurani terlalu berhati-hati sementara perlu dilakukannya suatu hal yang cepat, maka akal akan bertindak dengan memperhitungkan berbagai konsekuensi-konsekuensi. Maka sangatlah lengkap hardwere maupun softwere manusia untuk memenuhi kriteria sebagai pemimpin alam.
Dan nyatanya saat ini kerusakan di alam merupakan buah manusia yang gagal menjalankan perannya, baik peran sebagai basyar maupun khalifah. Jika ditinjau lebih jauh, konsep hubungan kepada Tuhan, manusia dan alam juga tidak diperhatikan oleh manusia kini.

F.      Perbedaan Filsafat Manusia Dan Ilmu Tentang Manusia (Psikologi & Antropologi)

Ilmu tentang manusia
Filsafat manusia
1.      Bersifat positifistik menggunakan metodologi ilmu alam, observasional dan eksperimental yang terbatas tampak secara empiris.
Bersifat metafisis menggunakan
metode ilmu kemanusiaan, sintesis, reflektif, intensif, dan kritis yang merupakan gejala seperti filsafat manusia.
2.      Oleh karena itu tidak dapat menjawab pertanyaan yang mendasar tentang manusia.
Oleh karena itu dapat menjawab
pertanyaan yang mendasar tentang
manusia.
3.      Metode lebih fragmentaris yaitu menyelidiki hanya bagian tertentu dari manusia. Contoh: Psikologi hanya menekankan aspek psikis dan fisiologis manusia sebagai organisme. Antropologi dan sosiologi pada gejala budaya dan pranata sosial.
Metode sintesis dan reflektif (ekstensif) atau menyeluruh, intensif (mendalam) dan kritis. Contoh: Filsafat manusia menekankan kesatuan dua aspek/lebih dalam satu visi.
G.     Manfaat Mempelajari Filsafat Manusia
1.      Secara praktis
Siapa sesungguhnya manusia? Hal ini membutuhkan pemahaman manusia secara menyeluruh, sehingga memudahkan mengambil keputusan-keputusan praktis/menjalankan aktivitas hidup sehari-hari.
2.      Secara teoritis
Pemahaman manusia secara yang esensial sehingga kita dapat meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori antropologi dan psikologi dan ilmu-ilmu tentang manusia.
3.      Manfaat lain:
a.       Mencari menemukan jawaban tentang siapakah sesunguhnya manusia itu, masalah-masalah terkait manusia sangat kompleks sehingga persoalan tentang manusia tidak habis untuk dibicarakan.
b.      Essensi manusia pada prinsipnya adalah sebuah misteri.






























BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Antropologi filsafat atau yang lebih dikenal dengan filsafat manusia adalah bagian integral dari sistem filsafat, yang secara spesifik menyoroti hakikat atau esensi manusia. Objek material filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia (misalnya psikologi dan antropologi) adalah gejala manusia. Pada dasarnya ilmu ini bertujuan untuk menyelidiki, menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.
Secara umum dapat dikatakan, filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empiris. Bentuk atau gejala apapun tentang manusia, sejauh yang dipikirkan, dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisa menjadi bahan kajian filsafat manusia. Metode penelitiannya pun lebih spesifik, misalnya melalui sintesis dan refleksi. Sintesis dan dan refleksi bisa dilakukan sejauh gejalanya bisa dipikirkan. Dan karena apa yang bisa dipikirkan jauh lebih luas daripada apa yang bisa diamati secara empiris, maka pengetahuan atau informasi tentang gejala manusia di dalam filsafat manusia, pada akhirnya, jauh lebih ekstensif (menyeluruh) dan intensif (mendalam) daripada informasi atau teori yang didapatkan oleh ilmu-ilmu tentang manusia.

B.     Saran
Syukur alhamdulillah, demikianlah penyusunan makalah ini, kami berharap dengan adanya penyusunan makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat sehingga menjadikan kita manusia yang berpendidikan dan berilmu. Walaupun masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dan sebagai perbaikan bagi kami dari semua pihak yang membacanya dan semoga makalah kami ini dapat bermanfaat bagi penyusun dan pembaca sekalian.











DAFTAR PUSTAKA

1.      Abidin, Zainal. 2006. Mengenal Manusia dengan Filsafat, Bandung: PT Rosda Remaja.
2.      Bertens, K. 2005. Panorama Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka.
3.      Suseno, Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia Pustaka.
4




[1] Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999
[2] Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999
[3] K. Bertens, Panorama Filsafat Modern, 2005
[4] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, 1999
[5] Denis Collin, Paulo Freire Kehidupan, Karya dan Pemikirannya, 2002
[6] Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999

0 komentar:

Post a Comment